Laman

Minggu, 19 April 2015

Gusti Ayu Surung - isteri Gusti Kaler Pemacekan di Madenan dan riwayat Pura Pedayanan Mandala dan Kesidhian Pura dalem Madenan.


Setelah beberapa tahun keturunan Kiayi Gusti Agung Pasek Gelgel tinggal di Banjar Pengaji desa Madenan – beliau diberi kuasa atas tanah bekas desa Alas Gunug Sari dengan batas-batas :
1.      Di sebelah utara berbatasan dengan hutan  Aas Ningkang.. Diberi nama Aas Ningkang karena pohon Beringin yang tumbuh disana akarnya melangkahi jalan yang menuju sumber air (bulakan) yang terdapat disebelah timur pura Dalem.berjarak sekitar 100 meter. Di hutan ini terdapat Pura Dalem desa Madenan
2.      Sebelah selatan  berbatasan dengan desa Sangambu
3.      Sebelah timur berbatasan dengan Tukad Mejan (batas desa Kutuh-Bangli)
4.      dan di sebelah barat berbatasan dengan tukad Yeh Song- desa Gentuh.

Di Sebelah utara batas tanah Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel terdapat 2 (dua) sumber air (Bulakan)  yaitu Yeh Bakung dan Yeh Aas Ningkang. Di Yeh Bakung dahulu didirikan pelinggih yang diempon oleh sekehe Subak  Bakung, Pengantungan tali dan sekitarnya. 

Di Aas Ningkang terletak Pura Dalem Desa Madenan dan di Yeh Aas Ningkang - sekarang dikenal dengan namaTaman Sari dan telah berdiri pura pedadyanan Mandala. Karena ditempat tersebut I Gusti Ayu Surung bersembunyi sampai ditemukan oleh pemilik tanah Pengantungan tali.

Diceriterakan - suatu ketika sehabis memeriksa batas-batas tanahnya di pengantungan Tali-sampai ke Bakung,  Pasek Gelgel Banjar Pengaji desa Madenan bermaksud mandi dan mengambil air di Yeh Aas Ningkang,  (berjarak sekitar 150 meter dari batas tanah Kiyayi  Gusti Agung Pasek Gelgel. Di Bulakan tersebut dijumpainya seorang wanita hamil sedang menangis sedih sendirian. Oleh Pasek Gelgel Banjar Pengaji wanita tersebut di dekati dan ditanya siapa gerangan dan dari mana asalnya, setelah I Gusti Ayu Surung menceritrakan riwayat dirinya dan peristiwa yang menimpa keluarganya di bukit Pegat –desa Kutuh Kintamani-Bangli, maka atas persetujuan I Gusti Ayu Surung  diajaklah I Gusti Ayu Surung ke Desa Madenan.

Di Madenan beberapa bulan kemudian - I Gusti Ayu Surung melahirkan seorang putra diberi nama I Gusti Manik Galih. I Gusti Manik Galih berkeluarga di Madenan dan berputra I Gusti Alit Mandala. I Gusti Alit Mandala tumbuh sebagai seorang pemuda tampan, pintar dan pandai bergaul.

I Gusti Alit Mandala bersahabat dengan Pasek Gelgel banjar Pengaji Bondalem. Persahatan tersebut dimulai karena Pasek Gelgel Banjar Pengaji Desa Bondalem sering berkunjung  ke Desa Madenan menjumpai keluarganya di Banjar Pengaji Desa Madenan. I Gusti Alit Mandala - pun sering bertandang ke rumah Pasek Gelgel Banjar pengaji di Desa Bondalem.

Suatu ketika I Gusti Alit Mandala menyampaikan niatnya untuk tinggal di Bondalem karena di Bondalem dirasa lebih ramai dan memberi peluang untuk maju dibandingkan dengan di Madenan. Saat itu Desa Madenan masih dikelilingi hutan lebat dan pohon-pohon kopi yang tinggi-tinggi dan binatang buas seperti Harimau Bali masih sering berkeliaran sehingga sulit berkomunikasi dengan desa-desa sekitarnya. Jarak Desa Madenan dan Bondalem sekitar 7 km.   Niat I Gusti Alit Mandala untuk tinggal di Desa Bondalem  disambut baik oleh Pasek Gelgel Banjar pengaji Madenan dan Bondalem,  maka berangkatlah I Gusti Alit Mandala bersama Pasek Gelgel Banjar Pengaji Bondalem  ke Desa Bondalem. 

Di Desa Bondalem I Gusti Alit Mandala membuat rumah dan hidup bertetangga dengan Pasek Gelgel banjar Pengaji Bondalem. Bahkan I Gusti Alit Mandala membuat pemujaan sederhana untuk para leluhurnya berdampingan dengan pemujaan leluhur Pasek Gelgel Banjar Pengaji Bondalem yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.

Sebagai kenangan terhadap tempat persembunyian Gusti Ayu Surung maka pratisentana Alit Mandala mendirikan sebuah pura Pedadyaan di Yeh Aas Ningkan yang sekarang dikenal sebagai Pura Taman Sari-sedangkan penduduk Desa Madenan menyebutnya sebagai Pura Menale.

Pura Pedadyaan Mandala Taman Sari  berdekatan dengan Pura Dalem Desa Madenan, berjarak sekitar 100 m.

Hutan Aas ningkang tempat Pura Dalem Desa Madenan Berdiri dan sekitarnya dalam catatan peristiwa sudah 2 kali menyelamatkan kehidupan manusia yaitu :
1.      Peristiwa pertama : I Gusti Ayu Surung –Isteri Gusti Kaler Pacekan - sekitar abad 16-17 M bersembunyi sambil berdoa di Pura dalem Madenan dan ditemukan di bulakan/sumber air petirtaan - sekarang dikenal dengan nama Taman sari-berjarak sekitar 100 meter dari pura Dalem Madenan.

2.      Peristiwa Kedua : Pada tahun 1965 sehabis peristiwa G 30 S/PKI. Para tertuga PKI yang akan di eksekusi mati di Desa Madenan- terhindar dari Eksekuti Mati berkat upaya seorang keturunan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel  banjar Pengaji Desa Madenan yang bernama I Gede Diksa Negara. I Gede Diksaa Negara saat itu menjabat sebagai ketua Ranting Partai Nasional  Indonesia (PNI) sedangkan kakak beliau yang bernama I Made Klerek menjabat sebagai Prebekel (Kepala Desa) Madenan. Berkat upaya I Gede Diksa Negara – maka eksekusi mati terhadap para terduga PKI gagal dilaksanakan di rumah keluarga I Gede Diksa Negara yang sekaligus digunakan sebagai Kantor Prebekel. I Gede Diksa Negara meminta kepada para algojo dari  desa Bondalem untuk meninggalkan rumah I Gede Diksa Negara karena kalau sampai ada pembunuhan dirumahnya maka rumahnya – menurut kepercayaan orang Bali akan leteh.  I Gede Diksa Negara juga mengatakan kepada para Algojo yang sudah sempat mengayunkan pedangnya ke leher salah satu terduga PKI yang tidak berdaya karena tangan dan kakinya diikat dan lehernya sudah ditandalkan/diletakkan  pada  balok – balok  kayu (ada sekitar 15 orang yang akan dieksekusi/penggal) - oleh I Gede Diksa Negara secara reflek  tangan sang algojo ditangkap dan  meminta tidak melakukan pembunuhan ditempatnya. Dan meminta untuk meninggalkan rumahnya dan masalah Madenan akan diselesaikan oleh rakyat Madenan sendiri. Situasi yang sangat menegangkan tersebut ditambah jeritan lantang tangisan histeris isteri I Gede Diksa Negara yang bernama Nyoman Estran sambil memeluk kaki suaminya, mengundang para penduduk Desa Madenan berdatangan kerumah I Gede Diksa Negara.   Melihat situasi yang menegangkan tersebut para Algojo segera menyarungkan pedangnya dan pergi meninggalkan rumah Gede Diksa Negara.  Setelah para Algojo pergi meninggalkan Desa Madenan, maka para terduga PKI diminta untuk bersembahyang di Pura Dalem Madenan dan tinggal (bersembunyi) di pengantungan tali dekat Pura dalem Madenan sampai keadaan Negara benar-benar aman. Sedangkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka diberi wewenang untuk menggarap tanah milik keluarga (Warisan) I Gede Diksa Negara dan Made Klerek dipengantungan tali untuk ditanami singkong dan jagung. Sekarang pengantungan tali diwariskan kepada keluarga Made Klerek sedangkan Keluarga I Gede Diksa menguasai tanah di Bakung.

Dari dua peristiwa Kemanusiaan ini membuat keyakinan akan kesucian Pura Dalem Desa Madenan

Pura dalem Madenan-konon merupakan bekas lokasi kuburan kuno Desa Alas Gunung Sari. Desa Alas Gunung Sari adalah cikal bakal Desa Madenan. Sedangkan bekas lokasi desa Alas Gunung Sari kini dikenal dengan nama pekarangan-terletak disebelah selatan pengantungan tali. Sedangkan di lokasi bekas kuburan Desa Alas Gunung Sari terdapat pura Dalem Desa Madenan- berlokasi sekitar ½  km disebelah utara pekarangan. dan  sekitar 2 km sebelah timur  desa Madenan masa kini. Berjarak 100 meter kearah timur laut Pura Dalem Desa Madenan - terdapat bulakan/petirtaan yang kini telah berdiri pura pedadyaan Mandala yang dikenal dengan nama pura Taman Sari yang disungsung oleh Pratisentana Mandala Desa Bondalem.

Lihat Juga
 
ILMU SOSIAL



ILMU PSIKOLOGI



TENTANG HINDU





BABAD