Laman

Senin, 18 Februari 2013

BEKAL KE SORGA


Oleh : Dr. ING. Mudiarcana


Untuk bisa mencapai sorga, seseorang  perlu melakukan 4 (empat) hal  selama hidupnya di dunia/mayapada. Ke empat hal tersebut, yaitu :
1.      Ber-Yadnya,
2.      Ber- Dana punia
3.      Ber-Tapabrata  
4.      Ber Karma yang baik 

Yajna dana tapah karma na tyajyam karyam ewa tat, yajno danam tapas cai’wa pawanani manisinam ( BG. XVIII.5)


Beryadnya, berdana, bertapa dan karma jangan diabaikan, melainkan harus dilakukan, sebab beryadnya,ber-danapunia, ber-tapabrata adalah pensuci bagi orang arif bijaksana.

1.      Yadnya

Bekal/Infestasi pertama  untuk dibawa ke Sorga yaitu : Ber-Yadnya / Bhakti kepada Hyang Widdhi yang kita lakukan selama hidup di Dunia/Mayapada

Yadnya harus dilakukan menurut petunjuk kitab suci dengan tidak mengharap pahala,dan percaya sepenuhnya upacara ini sebagai tugas kewajiban sebagai wujud bakti kepada Hyang Widdhi. Yadnya dilakukan bukan semata-mata untuk keperluan kemegahan belaka.  Apalagi apabila yadnya dilakukan tanpa menurut peraturan kitab suci dimana makanan tidak dihidangkan, tanpa diserta mantra tanpa daksina dan tanpa keyakinan.(BG.XVII.11-13)

Semua yadnya harus ditujukan untuk mengagungkan kemuliaan Hyang Widdhi, karena Hyang Widdhi-lah yang menerima semua yadnya dan tapa seperti sabda Bagawad Gita  berikut :

Bhoktaram yajnatapasam, sarwaloka maheswaram, sahridam sarwabhutanam, jnatwa mam santim ricchati (BG. V.29)

Artinya
Dengan mengetahui Aku sebagai penerima segala yadnya dan Tapa, Tuhan seru sekalian alam, pencipta semua mahluk, ia mencapai kedamaian abadi

Sri Krisna bersabda : “ Ada tiga macam kepercayaan (sraddha), yang dibentuk oleh watak badan rokh yaitu bersifat sattwika, rajasika dan tamasika. Kepercayaan tiap-tiap individu tergantung pada sifat wataknya,  manusia terbentuk oleh kepercayaannya, apa kepercayaannya begitu pula watak nya”.(BG. XVII.2-3).Orang yang bersifat Satwika menuja Dewa- Dewa, yang bersifat Rajasika memuja Yaksa dan Raksasa, sedangkan yang bersifat Tamasika memuja roh orang mati dan Butakala (=setan) (BG. XVII.4)

Dengan berbakti kepada-Ku, ia mengetahui Aku, siapa dan apa sesungguhnya Aku itu dan dengan mengetahui hakekat-Ku, ia mencapai Aku dikemudian hari. (BG.XVIII.55)

Berlindunglah engkau hanya kepada-Ku, dengan seluruh jiwa ragamu, Oh Bharata, dengan restu-Ku engkau akan mencapai kedamaian tertinggi dan tempat yang kekal abadi (BG.XVIII.63)

Dengan memusatkan pikiranmu kepada-Ku, engkau menjadi pengikut-Ku, bersujud kepada-Ku, sembahlah Aku, engkau akan tiba kepada-Ku, Aku berjanji sepenuhnya kepada-mu sebab engkau Aku kasihi. (BG.XVIII.65)

2.      Berdanapunia

Bekal/infestasi ke dua yang dibawa ke Sorga yaitu : Dana/Ber-Dana punia yang kita lakukan selama hidup di Dunia/Mayapada

Danapunia atau sedekah harus diberikan tanpa mengharap kembali, dengan keyakinan sebagai tugas untuk memberikan pada tempat penerima yang patut misalnya di Pura atau tempat-tempat Suci, anak anak yatim piatu, orang-orang jompo yang tidak punya keluarga. Danapunia seperti ini disebut satwikam.smrtam (BG.XVII.20)

Danapunia atau sedekah yang diberikan dengan harapan untuk didapat kembali atau memperoleh keuntungan dikemudian hari dan dengan perasaan tidak tulus, sedekah seperti ini disebut Rajanam smritam(BG.XVII.21)

Danapunia atau sedekah yang diberikan pada kesempatan dan waktu yang salah, kepada mereka yang tidak patut (misalnya diberikan untuk berjudi, membeli minuman keras atau Narkoba) dan tanpa upacara dan penghinaan disebut tamasa (tamasam udahritam) (BG.XVII.23)

Selalu mempersembahkan Dana punia merupakan infestasi/bekal ke dua Umat Hindu menuju sorga/moksa setelah beryadnya/bhakti/sembahyang. Selain sebagai infestasi di sorga Ber-Dana Punia yang rutin dilakukan juga berfungsi untuk men-sucikan harta benda (rejeki) yang kita peroleh. Sebab dengan men-Dana punia-kan sebagian harta yang kita peroleh maka harta benda kita akan me-sari.  Dalam Sarasamuscaya sloka 261, 262, 263 dan Ramayana sarga II bait 53, 34 disebutkan bahwa harta yang didapat (hasil guna kaya) hendaknya dibagi tiga yaitu untuk kepentingan: Dharma 30%, Kama 30%, dan Dana harta ( Modal Usaha 40%.)

Selain untuk menyucikan diri/ meruwat atau melukat, Ber-Dana Punia juga berfungsi untuk men-sucikan harta benda (rejeki) yang kita peroleh, karena dengan men-Dana punia-kan sebagian harta guna kaya yang kita peroleh maka harta benda kita akan menjadi me-sari. 

3.      Bertapa Brata

Bekal/infestasi  ketiga untuk dibawa ke Sorga yaitu: Tapa/Tapabrata yang kita lakukan  selama hidup di Dunia/Mayapada

Yang dimaksud bertapa-brata (tapa) adalah pengendalian diri  yang  dilakukan dengan hormat kepada para Dewa-Dewa, para Dwijati, Guru dan orang Arif bijaksana dengan cara sauca/suci, arjawa/benar, brahmacari/berguru kepada brahmana, dan ahimsa/tidak menyakiti atau membunuh mahluk lain disebut bertapa dengan badan/perilaku( Sariram tapa ucyate)(BG.XVII.14)

Kata-kata yang tidak melukai hati/tidak menyinggung perasaan/tidak menyebabkan orang marah( Anudwegakaram wakyam), dapat dipercaya (satyam wakyam), lemah-lembut dan berguna (Priyahitam wakyam), demikian pula membiasakan diri dalam mempelajari kitab-kitab weda (swadhyayabhyasananam)  ini dinamakan bertapa dengan ucapan (wanmayam tapa ucayate) (BG.XVII.15)

Pikiran tenang(Manahprasadah), bersikap lemah lembut(Saumyatwam), pendiam(maunam), mengendalikan diri(atmawinigrah), jiwa suci(bhawasamsuddhir), ini semua disebut bertapa dengan pikiran(Tapo manasam ucyate) (BG.XVII.16)

Bertapa dengan badan, bertapa dengan ucapan/kata-kata dan bertapa dengan pikiran disebut juga Trikaya parisudha, tiga hal yang harus disucikan yaitu :mensucikan  perbuatan /badan (Kayka parisudha), mensucikan ucapan/kata-kata (Wacika parisudha) dan mensucikan pikiran/perasaan (Manacika parisudha)

Selain ber Tri Kaya Parisudha, bertapa juga dilakukan dengan pengendalian makan dan minum  serta pengendalian Kama ( napsu seksual )

Makanan yang menyehatkan, memberi hidup, memberi kekuatan, tenaga, kebahagiaan dan kesenangan, terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak adalah yang disukai oleh sattwika, Makanan yang pahit, asam, asin, pedas banyak rempah rempah, membakar, yang menyebabkan kesusahan, kesedihan dan penyakit (misalnya Alkohol dan Narkoba) disukai oleh Rajasika, Makanan usang atau basi, hilang rasa, busuk, berbau tidak sedap, sisa-sisa, tidak bersih adalah makanan yang sangat digemari oleh tamasika.

4.      Karma

Bekal/infestasi ke empat yang akan dibawa ke Sorga adalah :  Karma/perilaku hidup kita sehari-hari di Dunia/Mayapada

Karma atau perilaku sehari-hari, merupakan infestasi (modal/bekal)  ke 4 menuju pensucian diri supaya sang atma bisa mencapai Sorga. Berperilaku yang suci   atau mensucikan  perbuatan (Kayka parisudha).  Yaitu melakukan perbuatan sesuai Dharma dan menghindari perbuatan Adharma.

Yang termasuk perbuatan Adharma yaitu : Sad Ripu dan Sad Atatayi

Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu:
1.      Kama artinya sifat penuh nafsu indriya.
2.      Lobha artinya sifat loba dan serakah.
3.      Krodha artinya sifat kejam dan pemarah.
4.      Mada artinya sifat mabuk dan kegila-gilaan.
5.      Moha artinya sifat bingung dan angkuh.
6.      Matsarya adalah sifat dengki dan iri hati.

 Sad Atatayi berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi), terdiri dari dua kata yaitu : "Sad" artinya enam, dan "Atatayi" artinya kejahatan. Jadi sad atatayi artinya enam kejahatan yang dilarang Agama Hindu yaitu :
1.      Agnida: membakar rumah atau milik orang lain, termasuk meledakkan bom,
2.      Wisada: meracuni orang atau mahluk lain.
3.      Atharwa: menggunakan ilmu hitam (black magic) untuk menyengsarakan orang lain.
4.      Sastraghna: mengamuk atau membunuh tanpa tujuan tertentu karena marah.
5.      Dratikrama: memperkosa, pelecehan sex.
6.      Rajapisuna: memfitnah

Dalam Bhagavadgita XVI.21-22. Kama (nafsu sex), krodha (marah) dan lobha (serakah) disebutkan sebagai tiga jalan menuju neraka (Triwidham narakasye’dam), Jalan untuk menuju kehancuran diri (dwaram nasanam atmanah ), sehingga ketiganya harus disingkirkan (tasmad etat trayam tyajet) dari diri manusia. Orang yang bisa membebaskan diri dari Kemarahan, Keserakahan, dan Nafsu sexual yang tidak pantas,  dan berbuat untuk kemuliaan Tuhan YME akhirnya bisa mencapai tempat yang tertinggi ( sorga bahkan moksa)

Jadi kesimpulannya :

Setiap umat Hindu harus melaksanakan
    1. Yadnya : atau selalu berbakti/bersembahyang kepada Hyang Widdhi
    2. Dana     :Selalu mendana puniakan sebagian harta guna kaya yang diperoleh
    3. Tapa      : Melakukan penghendalian diri, pengendalian terhadap pikiran, perkataan, pengendalian terhadap badan, pengendalian terhadap makan, minum dan nafsu seksual
    4. Karma   : Yaitu selalu perbuat yang baik /Subakarma


ARTIKEL LAINNYA


Sabtu, 16 Februari 2013

Aswattama dan Nabi Ibrahim


Aswatama anak seorang Brahmana yang bernama Pendeta Drona, yang menjadi gurunya  pangeran Kuru (Pandawa dan Korawa). Aswatama beribukan Dewi krepi, yang menurut legendanya adalah jelmaan Bidadari Wilotama. Diberi nama Aswatama karena bentuk telapak kaki nya mirip telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki), dan berambut seperti rambut kuda.  hal ini dikarenakan, ketika awal mengandung dirinya, Konon Dewi Krepi/Wilotama sedang beralih rupa menjadi Kuda Sembrani dalam upaya menolong Bambang Kumbayana ( nama Resi Drona sewaktu muda), menyeberangi lautan.

Dalam dunia wayang Aswatama dikenali dengan ciri-ciri :  bermata kedondongan putih, berhidung mancung serba lengkap, berketu udeng dengan garuda membelakang, bersunting kembang kluwih panjang, berkalung putran berbentuk bulan sabit, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain, tetapi tidak bercelana panjang dan bentuk telapak kakinya seperti telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki) dan bersurai

Kamis, 14 Februari 2013

Membaca Bhagawad Gita=Sembahyang








Adhyesyate ca ya imam dharmyam samvadam avayoh,
jnyanayadnyena tena'ham istah syam iti me matih.
(Bhagawad Gita XVIII.70)

Artinya :

Dia yang selalu membaca percakapan suci ini (Bhagawad Gita), Aku anggap dia menyembah-Ku dalam wujud Jnyana Yadnya (Yadnya dengan ilmu pengetahuan).

Membaca Bhagawad Gita serta meresapi arti yang terkandung didalamnya  sama dengan sembahyang memuja Hyang Widdhi Wasa . Setiap hari membaca Bhagawad Gita merupakan pemujaan kepada Hyang Widdhi dengan jalan  Jnyana Yadnya. Apa yang dinyatakan dalam  Bhagawad Gita itu adalah sabda Hyang Widdhi  yang harus dipercaya dan dilaksanakan.

Syair suci Bhagawad Gita, dikidungkan dengan metrum Anustup,  yaitu sejenis wirama/kekawin/syair bahasa Sansekerta dengan suku  kata berjumlah delapan. Kalau tepat cara melantunkan syairnya dapat menggetarkan bioton-bioton/partikel-partkel alam yang ada di sekitar kita hingga mampu menembus alam kedewatan.

Dengan alunan kidung suci dengan metrum anustup dapat pula menyejukan alam sekitar termasuk yang mendengar alunan kidung suci ini, Srinuyad api yo narah,so’pi muktah subham lokam prapnuyat punya karmanam (BG.XVIII.71)/walaupun hanya mendengar alunan suci ini ia juga akan terbebaskan, mencapai dunia kebahagiaan dan akan mencapai kebajikan dalam berperilaku/karma.

Dengan membaca atau mendengar orang membaca Bhagawad Gita keragu-raguan dalam berbuat menjadi hilang, kekacauan pikiran menjadi musnah, ingatan akan tanggung jawab menjadi pulih. seperti yang dialami oleh Arjuna dan dinyatakan oleh Arjuna dalam BG. XVIII.73 berikut :

Nasto mohah smritir labdha, twatprasadan maya ‘cyuta, sthito’smi gatasamdehah krisye wacanam tuwa

Kekacauan pikiranku telah musnah, ingatan ku telah pulih kembali, karena rakhmat-Mu  aku berdiri tegak, keragu-raguanku telah lenyap dan aku akan bertingak sesuai dengan perintah-Mu.

Membaca sloka demi sloka pustaka Bhagawad Gita sama dengan sembahyang. Hal ini  jangan disalah artikan bahwa kalau sudah membaca Bhagawad Gita tidak perlu lagi sembahyang. Membaca Bhagawad Gita hendaklah di mengerti arti tiap sloka-slokanya dan sekaligus diterapkan atau dilaksanakan setiap perintah-perintahnya. Sehingga tidak ada dikotomi antara membaca Bhagawad gita dengan kewajiban umat Hindu yang lain.

Bahwa intisari dari perintah Bhagawad Gita terletak pada sloka XVIII. 5 yang berbunyi sebagai berikut :

Yajno dana tapah karma na tyajyam karyam ewa tat, yajno danam tapas cai’wa pawanani manisinam

Beryadnyaa, berdanapunia, bertapabrata dan berkarma (yang baik)  jangan diabaikan, melainkan harus dilakukan sebab dengan beryadnya berdanapunia bertapabrata adalah untuk mensucikan diri bagi orang arif bijaksana.

Jadi Sembahyang dan membaca Bhagawad Gita sambil berdana punia dan mengendalikan diri (tapabrata) dan berperilaku subha karma, seyogianya dipadukan,  sehingga apa yang dijanjikan dalam Bhagawad Gita dapat tercapai.

Kalau diringkaskan perintah Bhagawad Gita mencakup :
1.      Selalu ber sembahyang dan memusatkan pikiran kepada Hyang Widdhi ( BG. XVIII.65)
2.      Berlindung hanya kepada Hyang Widdhi (BG.XVIII.62)
3.      Yadnya : melaksanakan yadnya sebagai wujud bhakti kepada  Hyang Widdhi.(BG.XVIII.5)
4.      Dana : Berdanapunia (bersedekah) di tempat-tempat yang pantas misalnya di Pura atau di panti-panti asuhan, panti-panti jompo dan daerah bencana (BG.XVII.20)
5.      Tapa :Pengendalian diri terhadap  pikiran, kata-kata, perbuatan, makan, minum dan nafsu birahi (BG. XVII.14-16 dan  BG.V.23)
6.      Berperilaku subhakarma, menjauhkan diri dari sad ripu dan sad atatayi
7.      Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau dermakan, tunjukkan sebagai bhakti kepada Hyang Widdhi.
8.      Selalu membaca kitab suci Bhagawad Gita  atau  mendengarkan orang membaca Bhagawad Gita (BG.XVIII. 70-71)
9.      Menjauhi tiga jalan ke Neraka yaitu : Kama/nafsu seksual, Krodha/marah  dan lobha/serakah  (BG. XVI.20) dan selalu berbuat untuk kemuliaan Atma.
10.  Jangan meninggalkan Weda (sastrawiddhim), karena meninggalkan Weda (= meninggalkan agama Hindu) tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi yaitu sorga atau Moksa. (BG.XVI.23)
11.  Jangan mencari Dewa-dewa lain/Tuhan lain selain Tuhannya Agama Hindu (BG. VII.20), Karena dengan harapan yang sia-sia, perbuatan yang sia-sia dan tanpa kesadaran mereka mengikuti jalan keliru oleh pengaruh jahat Raksasa dan Asura (=setan) yang menyesatkannya (BG. IX.12)

Sebagai penutup saya kutipkan BG. VII.20

Karmais tair-tair hritajnanah,  prapadyante ‘nyadewatah, tam-tam niyamam asthaya, prakrtitya niyatah swaya

Mereka yang dikendalikan oleh nafsu duniawi, oleh karena pengetahuannya yang keliru, pergi ke tempat pemujaan dewa-dewa lain ( selain dewa-dewa Hindu.  red.), mereka itu berpegang pada aturan  menurut cara-cara mereka sendiri.


Tulisan ini disarikan dari :  
Kitab Bhagawad Gita yang dturunkan oleh Hyang Widdhi wasa dalam manifestasi sebagai Awatara Wisnu ( Sri Krisna= Narayana= Paramabrahma= Purusautama=  Maha Iswara)  kepada Arjuna yang dilihat dan  dicatat oleh Maharsi Wiyasa. 


Bacaan terkait : 


ARTIKEL LAINNYA