Laman

Sabtu, 29 April 2017

Asal Usul Untung Surapati



Beberapa catatan sebagai Latar belakang :

Restrukturisasi masyarakat Bali mulai ada sejak dalem Waturenggong menjadi raja di Gelgel (1460 - 1550M). Masyarakat di Bali di restukturisasai menjadi berbagai SOROH diantaranya Soroh IB yaitu keturunan dari Danghyang Nirarta, Soroh Arya (keturunan para Arya  yang menyertai pemyerangan Gajah Mada ke Bali dengan Nama  depan I Gusti) Soroh Satrya Dalem (kturunan Sri Krsna Kepakisan dengan nama depan I Dewa) soroh Pasek dengan nama depan Ki (laki) atau Nyi (perempuan), soroh Pande dan lain sebagainya.

Untuk mempersatukan berbagai soroh itu maka, Pura dasar Buwana Gelgel ditingktkan statusnya menjadi pura kerajaan yang mencakup 4 soroh yaitu soroh : Satrya Dalem, IB, MGPSSR, dan Pande)

Mulai saat itu nama soroh dapat dikenali dari namanya antara lain I Dewa, Ida bagus, I Gusti, dls.  Soroh ini mengadopsi CATUR WARNA shg terjadi soroh IB disebut Wangsa Brahmana, Soroh satrya Dalem (I Dewa) disebut wangsa Ksatrya, soroh para Arya dengan sebutan I Gusti disebut wangsa Wesya sedangkan diluar itu disebut soroh Jaba.

Pada saat Bali dibawah kekuasaan Kolonial para Arya beramai ramai menganti namanya menjadi IGA, AA, Cok dls. Dan menyebut dirinya Wangsa Ksatrya,Soroh Arya tidak mau dikelompok kan sebagai wangsa Wesya. Kemudian disusul Soroh Pande yang dikelompokkan sebagai Sudra menuntut keadilan di Raad Van Kerta, karena leluhur Pande adalah Soroh Brahmana (Mpu).

Catatan Penting :

Pada saat dalem di Made (cucu dari dalem Waturenggong)  menjadi raja di Gelgel, Nama depan orang Bali menunjukkan soroh mana mereka itu.

Sejarah Bali th. 1660 - 1707

Bali dibawah kekuasaan I Gusti Angung Maruti (1651 – 1677 M)

Pada tahun 1651 terjadi pemberontakan di kerajaan Gelgel yang dilakukan oleh I Gusti Agung Maruti. Dalem Di Made raja Gelgel saat itu terusir dari Gelgel dan menyingkir ke Guliang. Sejak tahun itu (1651) kerajaan gelgel dikuasai oleh I Gusti Agung Maruti hingga tahun 1677 M.

Sejak Kerajaan Gelgel dibawah kekuasaan I Gusti Agung Maruti,  dengan patihnya Ki Pasek Padang Subadra, kerajaan Bali terpecah belah. Raja-raja bawahan gelgel  memisahkan diri menyatakan kemerdekaan dan tidak mau tunduk kepada I Gusti Agung Maruti.


Perang Tulamben


Pada tahun 1667 terjadi perang antara Pelaut-pelaut Bugis dengan Desa Tulamben. Desa Tulamben saat itu dipimpin oleh seorang kepala desa bernama  Ki Jatiwiyasa atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamben,  karena Ki Jatiwiyasa  merupakan sesepuh Warga Pasek di Desa Tulamben. Pasek juga berarti Pasak atau Pacek yang berarti memperkuat atau penguasa di Desa  atau disebut juga Prebekel atau Bendesa.  
Pada perang ini praktis Desa Tulamben tidak mendapat bantuan dari prajurit kerajaan karena suasana kerajaan masih kacau balau akibat pemberontakan Krian Agung Maruti.  Sehingga perang ini hanya melibatkan masyarakat Desa Tulamben dengan pimpinannya Ki Jatiwiyasa dengan orang perahu dari Bugis.

Adapun penyebab perang itu konon karena persoalan JUDI. Menurut ceritra rakyat yang berkembang disekitar Tulamben, perkelahian diawali saat di Desa Tulamen ada Sabungan Ayam (judi). Pada saat ada sabungan ayam di Desa Tulamben, berlabuhlah  serombongan pedagang dari Bugis. Para Pedagang itu tertarik ingin membeli sebuah batu pipih yang rata (cili kumalasa) yang terdapat dihalaman pura melanting. Para Pedagang dari Bugis memperkirakan bahwa batu itu adalah batu mulya yang bernilai jual sangat tinggi. Sedangkan penduduk Desa Tulamben mengaggap batu itu batu keramat karena didalamnya berisi cili emas dengan guratan gambar dewa-dewi.

Tetapi oleh orang Tulamben batu itu dijadikan taruhan Judi dengan imbalan sendainya orang perahu yang kalah maka orang perahu (Bugis) harus menyerahkan seluruh isi perahunya kepada penduduk Tulamben, sedangkan apabila orang Tulamben yang kalah maka Orang Tulamben akan menyerahkan batu tersebut kepada Orang Perahu.

Orang Perahu (Bugis) meminta membeli ayam jantan untuk aduan dengan syarat ayam putih mulus dengan cuma sehelai bulu ekornya hitam. Namun, tak satu pun penduduk Tulamben kala itu memiliki ayam jago seperti itu. Namun, mereka tak kurang akal memperdaya wong Bugis. Seekor ayam putih total, dicabuti salah satu bulu ekornya. Dari lubang bekas cabutan bulu ekor itu dimasukkan ekor bulu ayam hitam. Agar tak bisa bertarung, leher ayam jago yang bakal dijual ke orang Bugis  itu digantungi seikat uang kepeng*.

Besoknya adu ayam jago pun digelar. Pada akhirnya, ayam itu sama sama lelah dan digelar ronde pruput. Ternyata, ayam jago milik wong Tulamben tajinya nyangkut di sangkar, sehingga tak bisa menyerang. Kerena lelah, tak berdiri, tak bisa menyerang, Ayam jago  milik wong Tulamben duduk. Sementara, meski tak bisa menyerang ayam jago milik wong Wajo tetap berdiri. Saya (wasit tajen*) pun memutuskan kalau adu ayam jago itu sapih alais imbang*.

Wong Bugis sempat hendak kembali ke kapalnya di pantai Tulamben. Setelah berunding di perjalanan, wong Bugis itu kembali lagi ke arena judi ayam jago, dan menyatakan tak terima ayamnya dikalahkan, karena ayamnya masih berdiri, sementara ayam milik orang Tulamben terduduk. Dari sinilah huru-hara dimulai. Orang-orang Tulamben tetap tidak mau dikalahkan karena  angkuh dan sombong,  merasa lebih banyak. Karena merasa lebih sedikit masanya maka orang perahu kembali ke perahunya ditenga
h laut. Orang Bugis pun menurut  versi Babad Pasek yang diterjemahkan oleh  IGst.Bgs. Sugriwa dan tercantum juga di dalam Babad Pamancangah Arya Kubon Tubuh/Kuta Waringin, mulai membuat strategi  menyerang desa Tulamben.

Perkelahian pun terjadi, Penduduk Desa Tulamben diserang oleh Orang perahu (Bugis).  Ki Jatiwiyasa sebagai sesepuh Desa tidak tinggal diam membiarkan warganya diserang oleh orang luar. Ki Jatiwiyasa pun ikut melibatkan diri dalam perkelahian itu untuk  membela warganya.   Orang Tulamben kalah dalam persenjataan, Orang Tulamben bersenjatakan keris sedangkan Orang perahu bersenjata bedil, sehingga meskipun orang perahu kalah jumlah tetapi menang dalam persenjataan, sehingga banyak penduduk tulamben mati sedangkan yang masih hidup kocar kacir menyelamatkan diri. Diantara yang mati itu termasuk Ki Jatiwiyasa (atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamen)  dan keluarganya. Anak-anak kecil yang selamat dari perkelahian dan tidak sempat melarikan diri kemudian ditawan dan dibawa ke dalam perahu termasuk Surowiroaji anak dari Ki Pasek Tulamben ( Ki Jatiwiyasa) yang saat itu baru berumur sekitar 6-7 tahunan-an.  Karena semua penduduk melarikan diri dan Tulamben hancur menjadi puing puing karena di bakar oleh orang perahu (Bugis) Sehingga Desa Tulamben sepi sunyi. Dan Surowiroaji ditinggal mati dalam perang oleh keluarganya, sehingga menjadi yatim piatu.

Ki Jatiwiyasa atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Pasek Tulamben adalah anak dari Ki Tirtawijaya Sukma, keturunan Kiyayi Agung Padang Subadra II.  Kiyayi Ageng Padang Subadra adalah seorang Bangsawan di zaman Singosari (Jawa Timur). Pada invasi majapahit ke Bali tahun 1342 Gadjah Mada menyertakan keturunan Ki Ageng Padang Subadra yaitu Ki Ageng Padang Subadra II menyertai Patih Gadjah Mada menyerang kerajaan Bali dari Tianyar.


(catatan : dalam babad kaba-kaba disebutkan  penyerangan ke kerajaan Bedahulu-Bali dilakukan dari arah timur dipimpin oleh Patih Gadjah Mada disertai patih keturunan Mpu Withadarma: lihat babad Kaba-kaba, Dinas kebudayaan Propinsi Bali th 2002 hal. 5).

SUROWIROAJI MENJADI BUDAK

Orang Perahu dari Bugis kemudian membawa Surowiroaji ke Makasar. Surowiroaji kemudian dijual dipasar Budak di Makasar oleh orang perahu dari Bugis dan dibeli oleh  Kapten van Beber, seorang perwira VOC yang ditugaskan di Makasar. Kapten van Beber kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain di Batavia yang bernama Moor. Sejak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama "Si Untung".

Untung Surapati  tumbuh sebagai pemuda tampan, gagah dengan tutur bahasa yang halus. Persahabatannya dengan anak majikannya yang benama Susane, membuat Susane jatuh hati kepada Untung.  Ketika Untung berumur 20 tahun diam diam Untung menikahi Susane anak majikannya sehingga kapten Moor marah besar  dan Untung dimasukkan kedalam penjara.   Di dalam penjara Untung kemudian menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan.

Mendapat nama Surapati

Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya melarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOCpribumi.

Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.

Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari1684.

Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.

Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama "Surapati" oleh SultanCirebon diserahkan kepada Untung.

Terbunuhnya Kapten Tack

Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek menggambarkan terbunuhnya Kapten François Tack oleh Surapati di Kartasura (1684) di bawah Susuhunan Amangkurat II.

Untung alias Surapati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati.

Kapten François Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.

Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belandatewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.

Bergelar Tumenggung Wiranegara

Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura.

Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wiranegara.
Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.

Kematian Untung Surapati

Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.

Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu.

Pada tanggal 18 Juni1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Surapati yang segera dibongkarnya. Jenazah Surapati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.

Perjuangan putra-putra Surapati

Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.

Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706.

Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka.

Dalam karya sastra dan media lain

Kisah perjalanan hidup Untung Surapati yang legendaris, selain sekarang menjadi nama jalan yang umum di Indonesia, juga cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Selain Babad Tanah Jawi, juga terdapat antara lain Babad Surapati.

Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.
Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati, .


KESIMPULANNYA :
      1.      Untung Surapati adalah keturuan Ki Pasek Tulamben dengan leluhur Ki Ageng Padang Subadra
      2.      Pada masa Untung Surapati ditngkap sebagai budak, nama nama soroh orang Bali sudah mulai populer, 
            diantaranya IB, I Gst, I Dewa, Ki, Nyi dls.


Referensi



      BACA JUGA : 
      
     

ILMU SOSIAL



ILMU PSIKOLOGI



TENTANG HINDU










SEJARAH


BABAD