Laman

Minggu, 19 April 2015

HUKUMNYA MENINGGALKAN AGAMA HINDU



MENINGGALKAN AGAMA HINDU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENCAPAI  KESEMPURNAAN - KEBAHAGIAAN -   SORGA ATAU MOKSA

Oleh : Dr. IN. Guli Mudiarcana


Pindah agama meninggalkan Agama Hindu,    sangat dilarang dalam agama Hindu. Mereka yang meninggalkan agama Hindu, untuk  mencari “Tuhan lain” selain dewa-dewa Hindu, mereka disebut : “disesatkan atau dikelirukan oleh pemikiran sesat kaum Raksasa dan Asura (Setan) yang mengeliru-kannya (BG.VII.20 dan IX.12)

Imbalan bagi orang yang meninggalkan agama Hindu untuk mencari Tuhan lain adalah:  tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan, kebahagiaan, Sorga atau Moksa  sebagai tujuan tertinggi umat Hindu.  (BG. XVI.23)                            

PINDAH AGAMA DISEBABKAN KARENA KURANGNYA PEMAHAMAN UMAT HINDU TERHADAP AGAMANYA  DAN MENGANGGAP SEMUA AGAMA SAMA,  PADAHAL SEMUA AGAMA TIDAK SAMA.  

Ketidak perdulian  umat  terhadap tattwa Agama Hindu adalah penyebab terbanyak umat Hindu pindah Agama. Apalagi kaum wanitanya, mereka dibiarkan pindah Agama oleh orang tuanya dengan alasan ikut suami.  

Prinsip wanita ikut suami atau predana ikut purusa sering disalah artikan dengan mem-biarkan anak gadisnya ikut laki-laki mana-pun termasuk : mengikuti kaum Adharma, Raksasa ataupun  Asura/ setan yang menipu umat manusia.

Yang dimaksud Predana ikut Purusa adalah dalam kontek masih satu Agama yaitu Agama Hindu. Yang dimaksud istri harus ikut suami bukan ikut Agama suami,  atau membiarkan anak gadis serta keturunan yang akan dilahirkan-nya menjadi pengikut kaum Adharma, melainkan terbatas pada ikut adat istiadat keluarga suami yang masih berdasarkan atas Dharma (agama Hindu).

Misalnya seorang perempuan dari Bali di-ambil  isteri oleh lelaki dari Jawa, maka  istri wajib ikut adat istiadat suaminya yang dari Jawa. Tetapi kalau lelakinya ternyata tidak beragama Hindu, maka dilarang bagi si wanita meninggalkan Agama Hindu seperti sabda Hyang Widdhi berikut:

Yah sastrawiddim utsrijya, wartate kamakaratah, na sa siddhim awapnoti,  na sukham na param gatim.
 
Artinya                                                                  
Mereka yang meninggalkan Weda (sastrawiddhim),mereka dipengaruhi oleh nafsu duniawi, tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tidak pernah bisa mencapai tujuan tertinggi (Sorga atau Moksa) (BG.XVI.23)

Sang Isteri justru  diperintahkan untuk  me-ngajarkan Weda kepada sang suami  sebagai orang yang masih asing bagi Weda, untuk mengikuti jalan Weda (Agama Hindu)  seperti mantra berikut

Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca (Yayurveda XXVI.2)

Artinya :                                                            
Hendaknya wartakan sabda suci ini ( Weda) kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun

Hyang Widdhi memerintahkan umat Hindu untuk menyebarkan ajaran Hindu kepada se-luruh umat manusia. Seandainya ada Wanita Hindu akan menikah dengan laki-laki yang bukan beragama Hindu, maka kewajiban si Wanita untuk mengajari dan mengajak laki-lakinya (calon suaminya) agama Hindu se-perti perintah Hyang Widdhi tersebut diatas.


PINDAH AGAMA SERING TERJADI  KARENA PEMAHAMAN YANG KELIRU ATAU SENGAJA DIKELIRUKAN OLEH  KAUM ADHARMA

Mereka yang dikendalikan oleh nafsu karena pengetahuannya yang salah/keliru, pergi ke-tempat pemujaan dewa-dewa lain , mereka berpengang pada aturan menurut cara-cara mereka sendiri (BG. VII.20).

Dewa-dewa lain yang dimaksud adalah Dewa-Dewa selain Dewa-Dewa Hindu, artinya pergi ke agama lain mencari tuhan lain dan  meninggalkan agama Hindu.

Dengan harapan yang sia-sia, perbuatan yang sia-sia, pengetahuan yang sia-sia dan tanpa kesadaran, mereka mengikuti jalan keliru oleh pengaruh jahat Raksasa dan Asura yang menyesatkannya (BG.IX.12)

Orang yang pindah agama atau meninggal kan Agama Hindu, sama artinya mencari Tuhan lain. Mereka oleh agama Hindu di-sebut : dipengaruhi/ ditipu  oleh Raksasa dan  Asura (setan) yang membawa ke jalan sesat.

Dalam agamanya yang baru sering  diajar-kan atau mungkin ditemukan ayat-ayat  yang menghujat Weda dan Agama Hindu sebagai agama penyembah berhala, agama politheis, menerapkan kasta-isme dan agamanya kaum pagan dan lain sebagainya. Bahkan Bapak- dan Ibu serta para leluhurnya yang beragama Hindu  disebut sebagai kaum kafir, sebagai ekpresi kebencian terhadap kitab Weda dan Hyang Widdhi, sehingga menurut Hyang Widdhi, mereka yang meninggalkan agama Hindu dan membenci agama Hindu kelak Atmanya pantas dicampakkan ke Neraka.

Dalam BG. XVI.19 disebutkan :                                
 Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan Raksasa.                    

Karena meninggalkan Agama Hindu berarti tidak bisa lagi membayar 3 macam hutang (tri Rna), karena tidak lagi mengakui adanya Tri Rna. Sering kita melihat orang yang sudah pindah agama disaat orang tuanya meninggal dia datang memakai pakaian adat, dia kelihatan berdoa seperti orang Hindu, padahal dia sudah tidak lagi beragama Hindu. Keluarga mereka meneri-ma seolah-olah biasa-biasa saja tanpa beban, demikian juga masyarakat tidak peduli.

Dalam Manawa Dharmasastra VI.35 disebutkan :’ Kalau ia telah membayar 3 macam hutangnya (Hutang kepada Hyang Widdhi, Hutang kepada leluhur dan hutang kepada orang Tua) hendaknya ia menunjuk kan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir tanpa menyelesaikan ke tiga macam hutangnya akan tenggelam ke bawah.

Dengan menganggap orang tua dan leluhur-nya sebagai orang kafir, penyembah berhala, kaum pagan dls.  bagaimana mungkin anak- cucu yang dilahirkannya mau membayar hutangnya kepada orang tua dan leluhurnya. Bahkan dalam catatan sejarah, tidak jarang mereka memerangi orang tua dan keturunan leluhurnya yang lain  yang masih setia kepada Agama Hindu, contohnya : Raden Patah memerangi dan mengusir orang tuanya yang bernama Kertabumi. Raden Kian Santang memerangi dan mengusir orang tuanya yang bernama Prabu Siliwangi.

Dalam Bhagawad Gita III.35 disebutkan :’ Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain.

Oleh karena itu apabila kita membiarkan anak cucu kita meninggalkan agama Hindu, maka dipastikan  dikemudian hari mereka akan menghujat kita dan leluhur-leluhurnya, sebagai orang kafir, penyembah berhala,  kaum pagan. dls.


BAHWA SEJAK DALAM KANDUNGAN KITA TELAH BERAGAMA HINDU. NENEK MOYANG KITA JUGA BERAGAMA HINDU. BAHKAN SELURUH UMAT MANUSIA PADA AWALNYA BERAGAMA HINDU SEPERTI DISEBUT DALAM SELOKA BERIKUT :

Imam wiwaswaite yogam, proktawan aham awyayam, wiwaswan manawe praha, manur ikswakawe’ brawit. Ewam parampara praptam,  imam rajarsayo widuh, sa kalena ‘ha mahata, yogo nastah parantapa. Sa ewa ‘yam maya te’dya, yogah proktah puratanah, bhakto ‘si me sakha cati, rahasyam hy etad uttamam (BG.1-3)

Artinya :
Ajaran abadi ini (weda) Aku turunkan kepada Wiwaswan, Wiwaswan mengajarkan kepada Manu,  dan Manu menerangkan kepada Ikswaku. Demikian diteruskan turun temurun,  para Raja resi mengetahuinya, ajaran ini lenyap di dunia bersamaan dengan berlalunya masa yang amat panjang Yoga yang tua (Weda) itu pulalah yang Aku ajarkan kepadamu sekarang sebab engkau adalah pengikut dan kawan-Ku, sesungguh-nya ini sangat rahasia.

Manu (yang menerima ajaran kitab Weda pertama kali) adalah leluhur umat manusia sehingga seluruh keturunannya disebut Manusia. Kitab Weda yang diajarkan kepada beliau inilah yang kembali diajarkan kepada Umat manusia saat ini.


YAKINLAH   BAHWA WEDA BERASAL DARI HYANG WIDDHI, PERINTAH-PERINTAHNYA MERUPAKAN PETUNJUK JALAN BAGI UMAT MANUSIA.

Kitab suci agama Hindu (Weda) berasal dari Hyang Widdhi seperti dikatakan sendiri oleh beliau dalam Bagawad Gita. XV.15 berikut :

Weda ntakrid wedawid ewa ca ‘ham

Artinya :
Akulah pencipta weda dan Aku yang mengetahui isi weda. 

Juga dinyatakan dalam Atharvaveda X.7.20 berikut:

Yasmad rco apataksan,  yajur yasmad apakasan,  samani yasya lomany atharvangiraso mukham. Skambham tam bruhi katamah svideva sah.:

Artinya :
Wahai manusia, Rgveda lahir dari-Ku, yang merupakan prana-Ku dan dari-Ku juga lahir yajurveda yaitu hati-Ku, Sama-veda adalah rambut-Ku, Atharvaveda adalah muka-Ku. Katakan siapakah yang sebenarnya menciptakan Veda. Wahai manusia, Akulah dengan nama Skambham yang menciptakan veda itu”

Bahwa Weda berasal dari  Hyang Widdhi juga dinyatakan oleh Hyang Widdhi dalam RgWeda X.10.9 dan YayurWeda XXXI.7  :

Tasmad yajnat sarvahuta, rcah samani jajnire,  chandamsi jajnire tasmad, yajus tasmad ajayata                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
Artinya :
“Wahai umat manusia, Rgveda, Samaveda, Atharvaveda dan Yayurveda, berasal dari-Ku”

Kitab Weda disebut juga  Sastrawiddhi atau Sastra brahman karena berasal dari Hyang Widdhi/Brahman/Tuhan YME, ini untuk membedakan sastra yang berasal dari pemikiran manusia, seperti yang ditulis oleh para Mpu/ Rsi / Danghyang / Professor / Doktor / Ahli agama / dsb.  yang  disebut Sastramanawa atau Dharmasastra.

Mereka yang mencela dan menyimpangkan kitab Weda (sastrawiddhim), dan tidak mengikuti ajaran Weda adalah orang-orang bodoh  yang tidak tahu jalan kebenaran dan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran abadi (BG.III.32)

Mereka yang selalu mengikuti ajaran Weda dan selalu melaksanakan perintah-perintah kitab Weda dengan penuh keyakinan dan bebas dari kepentingan duniawi akan dibe-baskan dari perputaran karma/ Reinkarnasi. Seperti sabda awatara Wisnu-Sri Krsna,  dalam Bagawad Gita.III.31 berikut :

Ye me matam idam nityam anustisthanti manawah, sraddhawanto ‘nasuyanto mucyante te’pi karmabhih.

Artinya :
Mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh keyakinan dan bebas dari keterikatan duniawi, mereka  akan dibebas kan dari belengu karma. (bebas dari kelahiran kembali/Reinkarnasi).

Mereka yang selalu memuja Hyang Widdhi, dan selalu berpikir tentang Hyang Widdhi, maka Hyang Widdhi berjanji akan menjaga apa yang sudah mereka punya dan akan membawakan apa yang belum mereka miliki seperti sabda berikut :

Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yogaksemam wahamy aham.(BG.IX.22)

Artinya :
Mereka yang selalu memuja-Ku, merenung- kan Aku selalu, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan akan Ku lindungi segala apa yang mereka telah miliki.

Untuk bisa mendapat Anugrah dan restu Hyang Widdhi, maka kita harus selalu men-sucikan diri kita dengan cara melaksanakan 4 (empat) perintah-Nya yaitu :

1.      Beryadnya:melaksanakan panca yadnya dan Sembahyang kepada Hyang Widdhi
2.      Berdanapunia, bagi orang yang men-dapat rejeki lancar dan bagi orang yang sedang bersyukur dan atau Mesesangi,
3.      Bertapa Brata, mengendalikan pikiran, perkataan, perilaku (trikaya parisudha), makan, minum dan nafsu seksual,
4.      Karma : melakukan perbuatan baik (subha karma) dan menghindarkan perbuatan tidak baik (Asubha karma)

Seperti sanda seloka berikut :

Yajna dana tapah karma,  na tyajyam karyam ewa tat, yajno danam tapas cai’wa, pawanani manisinam ( BG. XVIII.5)

Artinya :
 Beryadnya, berdana punia, Tapa dan karma   jangan diabaikan, melainkan harus dilaku-kan, sebab beryadnya,ber-danapunia, ber-tapabrata adalah pensuci bagi orang arif bijaksana.


KESIMPULANNYA : 

1.      Meninggalkan Agama Hindu (apalagi karena alasan ikut isteri atau ikut suami) tidak akan pernah bisa mencapai kebahagia-an, kesucian, Sorga atau Moksa sebagai tujuan tertinggi.
2.      Pindah agama terjadi karena kurangnya pemahaman orang tua/umat Hindu terhadap kitab suci Weda/Agama Hindu
3.      Pindah agama terjadi karena pemahaman yang keliru atau sengaja dikelirukan oleh kaum adharma (baik untuk kepentingan pemurtadan terhadap Hindu, maupun ke-pentingan bisnis/dagang dengan dalih agama) yang secara perlahan ingin meng konversi  umat Hindu.
4.      Umat Hindu harus yakin bahwa kitab Weda berasal dari Hyang Widdhi, pe-rintah-perintahnya merupakan tuntunan bagi umat manusia untuk mencapai ke-sempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi
5.      Supaya mendapat anugrah dari  Hyang Widdhi kita harus selalu melaksanakan : Yadnya, Danapunia, Tapabrata, Karma.


JALAN KELUAR

1.      Tatwa agama supaya mendapat porsi yang layak, karena selama ini keagama-an kita didominasi oleh bidang Upakara. Seperti diketahui gama Hindu berdiri di atas 3 (tiga) kerangka dasar yaitu : Tattwa, Etika dan Upakara, ketiganya harus berjalan seiring dan seimbang.
2.      Memberdayakan sulinggih dan pinandita dalam hal tattwa dan pewartaan agama. Karena  Sulinggih dan Pinandita sebagai panutan Umat, sehingga apa-pun yang di-wacana-kan oleh sulinggih dalam hal agama dan upakara akan dijadikan acuan oleh umatnya

Om Santi….Santi….Santi….Om


Baca juga :



ILMU SOSIAL

http://dharmagupta.blogspot.com/2012/04/kasta-dan-catur-warna.html   http://dharmagupta.blogspot.com/2012/04/sejarah-kasta-di-india-dan-bali.html


ILMU PSIKOLOGI



TENTANG HINDU


BABAD




52 komentar:

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Dr. I Nyoman Mudiarcana mengatakan...

tulisan ini bersumber dari Weda....saya heran thd orang Bali ( HIndu ????) kenapa mereka tidak mempercayai kalimat-kalimat dalam kitab sucinya????.Coba bandingkan dengan agama tetangga mereka sangat taat dan fanatik thd Kitab sucinya. Kita tidak perlulah fanatik thd kitab suci tetapipaling tidak harus mempercayai isi kitab suci. Saya jadi meragukan yg berkomentar ini apakah masih Hindu atau sudah meninggalkan Hindu dan mau mempromosikan agama tetangga dan berusaha mendeklegitimasi Hinbdu.

Dr. I Nyoman Mudiarcana mengatakan...

Kalau anda tidak percaya dengan Weda berarti anda bukan Hindu. Kitab Suci Hindu adalah WEDA (SRUTI dan SMERTI). Kini di bali sudah banyak namanya Nyoman-IB.AA.Dayu meudeng Bali, mepenjor dls (segala identitas Bali) tetapi mereka telah menbinggalkan WEDA dan Tidak lagi beragama Hindu. Dan hadir sebagai pembela ADAT padahal ujung-ujungnya untuk mendelegitimasi Hindu dan bertujuan mengalih agamakan Orang bali menjadi bukan Hindu lagi

Dr. I Nyoman Mudiarcana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Dr. I Nyoman Mudiarcana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dr. I Nyoman Mudiarcana mengatakan...

KALAU ANDA BUKAN BERGAMA HINDU pantas saja tidak setuju....jangan jadi penyusup di blog ini..mengaku Hindu tetapi bukan...dengan tujuan mendelegitimasi Hindu. Kalau anda memang beragama Hindu tolong tuliskan alamat dan identitas anda

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Guli Mudiarcana mengatakan...

ciri-ciri Brahmana seperti disebutkan dalam BG. XVIII.42 yaitu :
Samo = khusuk/tenang,
Damas = menguasai panca indra/mampu mengendalikan diri.
Tapah = mampu mengendalikan nafsu
Saucam = suci.
Arjawa = luhur budinya.
Ksanti = damai/tenang,
Jnanam = berpengetahuan.
Wijnanam = bijaksana/berpengalaman.
Astikyam = religius.

Seseorang disebut Ksatrya apabila memperlihatkan ciri-ciri Ksatrya seperti disebutkan dalam BG.XVIII.43 yaitu :
Sauryam = heroisme/pemberani.
Tejo = lincah.
Dhritir = teguh .
Daksyam = pandai menyelesaikan tugas,
Yuddhe = siap bertempur.
Apalayamam = tidak pengecut.
Dana = dermawan.
Iswarabhawa = bersifat memimpin/ berwibawa.

Seseorang disebut Wesya apabila mempunyai ciri-ciri Wesya seperti disebutkan dalam BG.XVIII.44 sebagai berikut :
Krsi = mengusahakan pertanian.
Gauraksya = memelihara lembu/berternak.
Wanijyam = berdagang.

Sedangkan seseorang disebut Sudra kalau mempunyai ciri-ciri Sudra seperti disebut dalam BG.XVIII.44 sebagai berikut :,
Paricaryatmakam = suka melayani

Dimanakah Kita dan anda sesuai WARNANYA?????

Guli Mudiarcana mengatakan...

KOMEN-KOMEN YANG MENGHUJAT HINDU atau WEDA akan dihapus dari Blog ini krn tidak sesuai dengan misi visi dari Blog ini yaitu : Mengawal kebenaran dan menyebarkan Ilmu pengetahuan

Anonim mengatakan...

Susah bicara dengan anda.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa mau mengampuni anda.

Candra Wiguna mengatakan...

Haha, Hindu versi radikal ini.
Apa anda pikir menulis tulisan seperti ini membuat orang lebih yakin pada Hindu?

Apa itu Hindu? Apa iya standar Hindu itu adalah menggunakan Veda? Lho memangnya kitab Smerti itu sudah konsisten dengan Sruti? Jika Veda Smerti mengajarkan bahwa minum kencing sapi itu baik, apa anda akan mempercayainya juga?

Saya mungkin beda dengan anda, saya memperkenalkan Hindu sebagai agama yang humanis, dan pluralis, bukan memperkenalkannya sebagai agama yang radikal, dogmatis, dan bermental teroris.

Satu lagi, cobalah biasakan untuk membuka komentar pada publik, jangan kebiasaan menghapus2 banyak komentar. Kalau ada yang menghukat, itu artinya komunikasi anda belum begitu baik. Percaua lah, jika tulisan anda cerdas, orang akan segan mencela anda.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Chandra Wiguna. Ini bukan versi radikal tetapi Versi yg berisi Dalil-dalil yg termuat dalam Weda. Anda masih Gentle krn menyertakan identitas dengan jelas. Komen yg pengecut terpaksa saya hapus. SEBAIKNY kalau sdr. Punya Argumentasi sertakan, kita berdialog secara AKADEMIS. Bukan asal Ucp. Biasakan berdialog dengan Dalil-dalil, Spt Para Sarjana Hukum berdiskusi masalah Hukum di pengadilan. Kita Yg mempercayai Hindu (WEDA) terbuka juga dengan dialog.Asal ada Dalil nya. Dalil bisa dikutipkan di Lontar, Di Gita, di SASTRA-SASTRA HINDU yg lain, tidak asal CAP RADIKAL. Argumen yg tidak disertai Dalil tidak akan bisa diterima..isinya hanya EYELAN semata. MOHON dsertakan Dalil (mantra atau Seloka) bantahan spt yg saudara Ucapkan. kalau anda tidak bisa menemukan Dalil bantahannya..MAKA sebagai Umat Hindu Dalil diatas HARUS DITERIMA SEBAGAI KEBENARAN.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Chandra Wiguna. Umat Hindu mempercayai Weda sbg Kitab Sucinya. Weda ada 2 macam. 1. SASTRAWIDDHI (WEDA SRUTI) dan 2. SASTRAMANAWA (WEDA SMERTI). SRUTI adalah Sabda Hyang Widdhi yg harus dipercaya oleh Umat Hindu. Sedangkan Smerti adalah Sastramanawa atau sastra yg berisi Tafsir thd Weda. Kalau ada Smerti yg mengatakan bhw kencing sapi bagus utk kesehatan..maka perlu penelitian lebih lanjut. Bahkan menurut Penelitian seorang Dokter. Kencing Manusia juga terbukti sangat baik untuk beberapa penyakit.http://sehatalami99.blogspot.com/2013/06/terapi-urin.html

http://health.liputan6.com/read/713703/20-tahun-wanita-63-tahun-ini-minum-air-kencingnya-sendiri

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/selain-tumbuhkan-gigi-berikut-manfaat-lain-dari-urine

Guli Mudiarcana mengatakan...

SILAHKAN BERKOMENTAR, TETAPI HARUS MENYERTAKAN DALIL ATAU ALASAN YG SESUAI DENGAN SASTRA. MUNGKIN ANDA PERNAH MEMBACA SELOKA ATAU MANTRA YG BERISI DALIL BANTAHAN THD YG SAYA KUTIP DIATAS....SILAHKAN SERTAKAN...TETAPI KALAU BERKOMENTAR TANPA DALIL ...ITU NAMANYA NGEYEL...APALAGI TIDAK BERANI MENYERTAKAN IDENTITAS DAN HANYA MENYEBUT ANONIM..ITU PENGECUT NAMANYA.

Sugiharta mengatakan...

Om awignam astu ya namah siddham.
Om swastyastu...
Saya rasa pemahaman saya agak sedikit berbeda dengan anda.
Saya rasa tuhan semua agama sama. Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, . Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, c, d, e, f dan g maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?

Maaf saya ,engutip sedikit, karena persepsi saya hampir sama dengan ini:
Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat eorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.
Sebagian besar umat Islam tingkatan awam, menyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang satu, bukan 2 dan bukan 3, yang sebutannya Allah. Sang Hyang Widhi, Yahweh, Deo dan God adalah Tuhan agama lain! Pernyataan ini berarti bahwa mereka menganggap ada banyak Tuhan, yaitu Tuhannya agama lain. Ada Tuhan yang namanya Sang Hyang Widhi yang khusus menguasai kehidupan umat Hindu, ada Tuhan yang namanya Yahweh yang khusus mengatur nasib umat Yahudi, dstnya. Jadi bila penduduk dunia ini ada 7 milyard, maka Allah hanya berkuasa terhadap I,5 milyard yang beragama Islam, sedang yang 5,5 milyard dikuasai oleh Tuhan Tuhan lain yang sebutannya bukan Allah? Jika demikian halnya maka Tuhan yang telah menciptakan seluruh umat manusia yang berjumlah 7 milyard ini, tidak diakui oleh umat Islam yang Tuhannya hanya mencipta 1,5 M umat Islam?

Terlepas dari anggapan diatas, adalah suatu fakta (kenyataan) bukan sekedar kepercayaan, bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu, yang tiada duanya, adalah yang menguasai dan mengatur kehidupan seluruh 7 milyard manusia apapun agamanya dan apapun sebutan yang diberikan kepada Tuhan. Bahkan yang tidak berTuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhanpun, tetap dikuasai oleh Tuhan.

"Selama Tuhan tampak di luar dan jauh sekali, selama itu ada kebodohan. Tetapi di mana Tuhan direalisasikan di dalam, itu adalah pengetahuan yang benar." Sri Ramakrishna Paramahamsa (1836-1886)

Hindu itu agama damai
Hindu itu agama universal
Hindu itu agama flexibel
I love hindu..

Om Santih, santih, santih, om.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Dalam suatu rapat besar atas nama pemerintah Inggris, William Jones marah besar kepada para misionaris karena dianggapnya tidak mampu mengkonversi umat Hindu menjadi umat Kristen. William Jones berkata : Kalian para misionaris ini terlalu bodoh, bagaimanapun upaya kalian baik para zending (misionaris) Protestan maupun Katolik tidak akan mampu mengkonversi orang-orang Hindu, sebab mereka sangat kuat keyakinan mereka terhadap kitab-kitab sucinya. Satu-satunya cara agar orang-orang Hindu mau pindah menjadi umat Kristen adalah mengacaukan isi kitab suci mereka. Posisikan kitab mereka lebih rendah dari kitab Injil dan angkat setinggi-tingginya kitab Injil .(The true history and the religion of India, dalam I Ketut Donder. Media Hindu edisi 92, Oktober 2011 halaman 44-45) kedua : Terapkan teori rasialis (kasta) pada Umat Hindu dengan maksud agar terjadi perpecahan pada masyarakat Hindu India. Kedua rencana tersebut supaya dijalankan secara simultan.

Federick Maximilian Muller, Sarjana keturunan Jerman, Anggota Gereja Kristen Oxford tahun 1851, menerima bayaran sangat tinggi dari East Indian Company untuk setiap lembar terjemahkkan Weda. Surat Max Muller tertanggal 25 agustus 1856 dan tanggal 16 Desember 1868 mengungkapkan fakta bahwa Max Muller ingin membawa kekristenan di India dan menyingkirkan agama Hindu. (www.encyclopedia of authentic Hinduism).

Max Muller pernah menulis surat pada istrinya, tanggal 9 Desember 1867 yang dipublikasikan di London dan New York tahun 1902 sebagai berikut : “Penerjemahan Weda
selanjutnya akan memberitahu untuk sebagian besar pada nasib India terhadap pertumbuhan jutaan jiwa negeri itu, ini adalah akar dari agama mereka, dan untuk menunjukkan kepada
mereka apa akar adalah saya merasa yakin, adalah satu-satunya Cara mencabut semua yang telah bermunculan dari itu selama 3000 tahun terakhir.(www.wikipedia.org/max muller)

Hasil upaya dan strategi misionaris Kristen (Max Muller dan kawan-kawannya) yang berkedok Ilmuwan Indolog tersebut berdampak negatif terhadap Agama Hindu di seluruh dunia sampai kini. Dari publikasi tulisan-tulisan Para misionaris berkedok Ilmuwan tersebut masyarakat Dunia termasuk Anak-anak Muda Hindu mengetahui isi Weda (yg tentu sudah disesatkan Oleh Kaum Misionaris tsb.) Sehingga Apa yg saya tulis diatas, dianggap Aneh oleh mrk yg terbiasa membaca WEDAnya versi Umat kristen. COBALAH kaji ulang terjemahan kitab Weda maupun Bhagawad Gita kata perkata kemudian dirangkai maka akan ketemu sperti Kalimat diatas. Contohnya : SASTRAWIDDHI. jelas terdiri dari Kata SASTRA dan WIDDHI yg artinya SASTRA yg berasal dari Hyang Widdhi (TUHAN YME) tetapi oleh Kaum Misionaris diterjemahkan KITAB-KITAB SUCI, maksudnya tentu utk mengalihkan perhatian Umat Hindu dari Weda Sruti ke Injil krn Injil juga termasuk Kitab suci (Kristen).

Wayan Renayasa mengatakan...

agama bukanlah yg nomor satu, ada yg lebih penting dari itu, suksma.

Anonim mengatakan...

Misal saya hindu dan mau menikah dengan non Hindu, saya pindah hanya untuk formalitas nikah dan kembali lagi ke Hindu. Apakah itu sama saja hukumnya?

Guli Mudiarcana mengatakan...

Sodara Anonim. saat nikah dengan upacara agama (apapun)merupakan REGISTRASi di SoRGA. Kalau balik lagi ke agama asal, maka perlu di Nikahkan lagi secara agama Asal.Ibarat orang yang mau sekolah kemudian pindah sekolah maka perlu ada catatan lagi. Demikian juga halnya dengan pernikahan perlu ada Registrasiu Ulang. Kalau pernah meninggalkan Hindu krn menikah. Maka saat kembali perlu di sudi wadani lagi dan dinyatakan sebagai umat Hindu. Pernikahannyapun perlu upacara lagi. Meskupun secara sederhana.

Balai Edukasi mengatakan...

Sedikit menambahkan.
Tempat suci pemeluk Hindu diantaranya kota Benares yang dianggap sebagai tempat persemayaman Dewa Syiwa. Sungai Gangga juga dianggap keramat dan suci karena air dialiran Sungai Gangga dianggap oleh penduduk dapat mensucikan abu jenazah yang dibuang ke dalam suangi . Hari raya umat Hindu antara lain Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Nyepi, dan Siwaratri.
Asal Usul Agama Hindu

ketut gede mengatakan...

bagaimana menurut pandangan anda mengenai tentang kitab bagawan gita yang berbunyi "dengan cara apapun dan jalan apapun engkau menujuku maka aku akan meneremanya" kurang lebih begitu isinya.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Sdr.Ketut Gede..yang dimaksud dengan cara apapun dan jalan apapun dlm bagawad gita yg sdr rujuk adalah jalan diantara 4 jalan yaitu cara atau jalan Bhakti, jalan Jnana, jalan karya/karma dan jalan karma. bukan jalan Tunggang tungging, jugkir balik atau cara memunyah sambil memuja _Nya atau berzinah sambil memujanya. Jalan yg dimaksud adalah jalan-jalan yg terdapat dalam sastra (WEDA).

suwana mengatakan...

Kita harus berkaca pada masa lalu, di mana agama hindu adalah agama yang terbesar dan berkuasa di nusantara, sekarang menjadi agama minoritas. ini karena kurangnya pemahaman umat kita terhadap Weda Sehingga banyak pindah ke agama lain. Saya sangat salut dengan Bapak Guli Mudiarcana pemahaman agamanya menurut saya cukup mumpuni. tidak banyak umat kita seperti beliau. Saya harap Bapak Guli Mudiarcana terus menulis di blog untuk mewartakan tentang Weda sehingga generasi hindu mendapat pencerahan. OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Anonim mengatakan...

Saya muslim tapi saya menyukai ini memang semua agama itu baik tapi hanya satu dari agama itu yang menyembah tuhan yang benar. Buat orang yang sekuler memang susah menerima ini mereka berpikir dengan perilaku baik saja akan masuk surga padahal tidak kenyataan (kebenaran) semua agama bilang siapa yang tidak mengikuti agamanya akan masuk neraka kenapa karena dia tidak menyembah tuhan yang benar. Jadi pilihlah agama dengan betul2 dan tetaplah damai para orang beragama karena semua agama juga mengajarkan baik.

andhika ramadhan mengatakan...

Saudara penulis blog ini sungguh tidak gentle
Tidak berani menerima kritikan dari org luar dengan menghapus komentar yang menjatuhkan agama hindu.
Coba anda buka blog yang menjelaskan agama islam,disitu para penulis blog nya tidak pernah menghapus komentar negatif ttg islam.Mereka menerima semua komentar negatif itu dan menjelaskan nya berdasarkan ayat didalam kitab suci al quran.Sehingga mereka yang salah pandangan terhadap islam akan mengerti dengan penjelasan dari si penulis blog berdasarkan ayat al quran.
Sebagai org yang menulis blog ini seharusnya anda berani menerima semua kritikan negatif ttg agama hindu dan menjelaskan kekeliruan mereka berdasarkan kitab suci anda bukan dengan menghapus komentar mereka
Saya hanya memberi saran kepada anda kalau anda memang orang yang tau agama:)
Keep peace for all

Raka Pering mengatakan...

Pak mau tanya, jika sang buddha adalah perwujudan dari awatara wisnu yang ke-9 dari 10 awatara, dan dia membawa misi untuk menegakkan dharma lagi. Tetapi yang saya bingung, dia menentang weda, dia menentang sastra hindu, terutama pembunuhan hewan untuk acara keagamaan dan sistim kasta di india pada saat itu. Berarti, dewa wisnu menentang isi weda yg merupakan dasar hukum hindu, nah di sini saya sedikit bingung, sementara yg saya baca, sepuluh awatara wisnu semuanya adalah misi untuk menyelamatkan dharma melawan adharma, tolong tanggapan dan penjelasannya.

Guli Mudiarcana mengatakan...

sdr. Raka Pering>>>sidartha Gautama tidak pernah menentang WEDA>>>Sidharta Gautama sebelumj menjadi Budha adalah beragama Hindu>>>Pengikutnjyalah yang memisahkan diri dari Hindu dan memodifikasi ajarannya.

heriansyah mengatakan...

Bismillahirrohmanirrohim
La ila haillalloh.....
Tidak ada tuhan selain alloh.
Jika di perdebatkan tidak ada ujungnya.hanya satu kata".lakum dinukum walliyadin".Yg artinya untukku agamaku,untukmu agamamu.

heriansyah mengatakan...

Bismillahirrohmanirrohim
La ila haillalloh.....
Tidak ada tuhan selain alloh.
Jika di perdebatkan tidak ada ujungnya.hanya satu kata".lakum dinukum walliyadin".Yg artinya untukku agamaku,untukmu agamamu.

Anonim mengatakan...

Saya hanya ingin bertanya kenapa tulisan ini bersumber dari Bhagawan Gita (BG) knpa tidak ada yg bersumber dari kutipan kitab weda secara langsung.
Terima Kasih

Andresen Jayakin mengatakan...

Syalom, Yesus Kristus memberkati, Islam beragama satu bertuhan satu bernabi satu, Muhammad nabinya Kabah pusat agamanya, sy bertanya Kabah itu kosong pusat bersembah setiap hadis berfirman tidak ada tuhan selain allah, allah maha besar dan kuasa, knpa hrus berkeliling benda kotak dan berbatu, lebih baik dan sangat baik msuk sebuah ruangan kosong nangis dan merenung menyebut nmnya tnpa hrs mata angin dan tanda berhadap berzujud, Kalau memang itu rumah allah dan allah berkuasa dikabah bertahun muncul dan berwujud manusia membangun rumah disitu, Allah Tuhan menjdi manusia hny sekedar membangun rumah di arab, bgi yg waras tdak mungkin kalau tuhan allah menjdikan drinya Juruselamat buat manusia nyambung cuy, ingat adam, hawa dan Nuh dunia menjdi kotor mknya allah membebaskan manusia dengan cranya Mnjd Juruselamat, buat apa batu tersusun disembah dikeliling, sujuz sja tnp mata angin, logika kebesaran tuhan dimna jika dia punya rumah dan pusat penyembahan didunia tdak mungkin, nah sapi dilarang buat dimakan dimnnya dilarang diciptakan buat makan knp dilarang, tuhan aneh skli ajarannya, bnyk mantra2 allah klian apa sih ayo maaf jk ada slh ngomong, hny Yesus Kristus Juruselamat manusia

G PUTRA KUSUMA WIJAYA mengatakan...

informasi sangat lah bermanfaat , kunjungi juga blog saya tentang agama hindu http://tentanghindu.blogspot.co.id/

victoa franciskus mengatakan...

Selamat siang saudara2 ku yg beragama hindu,setelah saya mencari tau dan mempelajari tentang agama hindu rupanya hindu merupakan agama pelopor agama buddha tidak ad hindu maka tidak akan ad budha ini secara garis besar karena hindu tercipta dari berbagaimacam kepercayaan yg terbukti baik utk masyarakat sejak jaman dahulu kala.. saya ucapkan terima ksih kepada umat hindu dan saya sangat menghormati kalian semua.. setelah saya malang melintang di dunia peragamaan mempelajari hampir semua agama,TERBUKTI bahwa semua agama pun mengajarkan kebajikan dan saya paham sekali bahwa orang2 yg membawa agama utk PENINDASAN, itu hanyalah OKNUM TIDAK BERTANGGUNG JAWAB.. Seperti agama budha bahwa menghormati semua pendahulu kita adalah BIJAK,Tapi kok harus menyembah patung? "Budha berkata jadilah orang flexible (BIJAKSANA) seperti para brahmana yg bs menghargai kebaikan kepercayaan lain,karena tiada mamfaatnya kita menyembah siapapun itu klo di dalam diri kita masih di kuasai KEMELEKATAN maka meditasi merupakan pondasi utama" Menghormati pohon bodhi yg melindungi sang budha bukan berarti kita menyembahnya namun kita berterima kasih kepadanya,Segala ajaran di dalam agama hindu semua masuk di dalam hati kami,saya akan selalu berterima kasih kepada kalian semua.. Sembah sujud sebagai wujud terima kasih saya kepada HINDU.. semoga tidak ada lagi KEBENCIAN terhadap agama lain di dunia ini.. Semoga Semua Mahkluk Hidup Berbahagia.. Sadhu Sadhu Sadhu..

Anonim mengatakan...

Salam damai buat saudara saudara hinduku
Hindu mengajarkan pentingnya kematangan jiwa. Dan menurut saya fanatik dengan kalimat dalam sloka bukanlah ciri khas dari kita kaum hindu. Kita lebih berporos pada philosofi dan praktek spritual. Mengenai masalah pindah agama itu pilihan hidup masing2. Namun kita saat ini hanya bisa menjelaskan bahwa dalam ajran hindu maupun budha yang memiliki ajaran yang dapat menjelaskan sistem dunia ini. Dan penyebaran agama bukanlah keajiban kita bahkan kita tidak diperkenankan mengajak. Bahkan meski ada tetangga kita yg atheis sekalipun. Jika anda tidak mengerti tentang hal ini maka anda yang justru kurang mengerti ajran hindu. Saya berharap dari tulisan hindu yg dibuat di dunia maya ini tidak untuk menebar kebencian mauoun penghinaan baik saudara kita sesama hindu maupun non hindu. Kita bantu sebarkan ajaran penuh cinta kasih dan rahasia brahman akan dunia ini.
Semoga kita selalu damai di hati dan damai di dunia
Om shanti shanti shanti

Anonim mengatakan...

Adminnya Sampun ngwedang ??

Anonim mengatakan...

Jwban anda tdk konsisten dan tdk mendidik bl anda bijak dan tdk dangkal ilmu pengtahuan anda cukup menjawab dgn dalil yg anda anggap benar bkn menghina dan mencela cr ibadah agama lain skedar mengurangi kedangkalan pengetahuan anda bhw semua agama mengajarkan kebaikan, jgn menilai sgl sesuatu hya dgn apa yg anda lihat smentara anda jg tk prnh berpikir apakah cr ibadah anda bnar...? Anda tentu memberi sesaji sbg bkt rs trimakasih pd tuhan anda anda yakin sesaji anda diterima...? Klu anda sllu brsandar pd apa2 yg anda lihat saja, stlh 2 atau 3 hr anda bw sesaji anda yg brbentuk buah dan telur ke lab anda cek kandungan unsur didlmnya sy yakin tdk ada prbedaan dr sblm benda itu dijadikan sesaji trus apakah ritual itu hya menggurkan kewajiban tanpa memperhatikan tujuanya.
Anda blh menghapus komentar sy yg pnting bila anda manusia yg punya akal sehat anda bs mgerti yg sy mksud. Trim's

Anonim mengatakan...

Om Swastyastu,

Ampure sedurungnyane, mengenai sesajen/persembahan dimana dalam agama hindu asli atau hindu non-Bali persembahannya bisa dengan bunga,buah,air dan api saja bahkan bisa tanpa sesajen(dengan meditasi dan chanting saja) disertai berbuat kebaikan, namun khusus untuk Hindu Bali ada namanya banten tentunya banten ini tidak cukup hanya bunga buah air dan api saja saja tapi banyak sekali ornamen2 banten tsb sehingga itu membutuhkan biaya yang besar(50jutaan hingga ratusan)juga dan banten tsb tidak boleh disederhanakan karena jika diubah2 nanti bisa kena masalah bangkrut usaha misanya, butuh banyak waktu untuk membuatnya, bhkan setiap upacara membutuhkan waktu yg tidak sedikit bisa sampai seharian sampai jam 3atau 4pagi atau bisa sampai sebulanan sehingga untuk umat kita yg (ampure) berpenghasilan rendah kemudian hidupnga di kota-kota besar dan belum lagi bahan bahan baku tsb semakin langka sehingga butuh banyak biaya untuk berupacara dan butuh banyak waktu.

Misalkn jika ada semeton kita hidup di kota besar penghasilan hanya 150ribu perhari misalnya tentunya dengan penghasilan segini tentunya banten tsb terlalu mahal,ritual itu terlalu mahal, selain itu dari segi wktu juga banyak sampai jam 3pagi atau jam 4pagi baru selesai upacara sedangkan jam 6pagi sudah jam kerja, ya jadinya berat biaya dan banyak menghabiskan waktu. seandainya bisa disederhanakan hanya dengan bunga,buah, air dan api saja seperti hindu asli/hindu non-bali saja tentunya lebih hemat biaya dan waktu,namun sayangnya tidak bisa dibuat demikian sehingga terasa berat dan itulah yg menyebabkan semeton kita banyak yg pindah karena berat di adat dan berat di upacara

Anonim mengatakan...

Om Swastyastu,

Ampure sedurungnyane, kita tidak bisa memaksakan ataupun menghalangi seseorang untuk memilih agama atau tidak, karena agama adalah pilihan sesuai dengan kecocokan masing2. sebab jika kita memaksakan seseorang agar beragama A atau B, maka cenderung riskan dan bisa debat nanti jadinya, oleh karena itu saya tidak mempermasalahkan lagi seseorang ingin beragama apa, biarkan mereka memilih sesuai dengan niatnya masing2(agama adalah pilihan sesuai kecocokan masing2 dalam berkeyakinan sehingga tidak bisa dipaksakan), apalagi sudah ada peraturan bahwa setiap warga negara indonesia bebas memilih agama dan kepercayaannya masing2

Intinya, apapun agamanya yang penting ingat leluhur. Contoh jika ada semeton kita yg pindah agama dan sudah keputusannya ingin pindah agama, maka mau giman lagi itu hak dia, yang penting dia ingat leluhur dengan cara tetap melaksanakan sembahyang leluhur meski doanya doa agama lain karena sudah pindah agama

Ada yg datang dan ada yg pergi, begitulah, sekarang dengan umat yg masih ada, tugas kita hanya membina mereka membina dan terus membina

Nika manten

Suksma
Ampure yenning wenten sane iwang

Suksma

Suryabharata mengatakan...

Om Swastyastu,

Menurut saya, ulasan di atas sangat bersifat pendapat pribadi dan cenderung ditambah"kan..

Sangat jelas ada sloka di Hindu yang berbunyi

Ekam Satviprah Bahuda Wadanti,

artinya Tuhan Hanya Satu, namun orang bijak menyebutnya dengan banyak nama..

Di sloka ini jelas artinya Bahwa Tuhan itu satu, baik disebut dengan Tuhan, Brahman, Ida Sang Hyang Widhi, Allah, Alam Semesta (ya, alam semesta, aliran Panteisme yang percaya bahwa alam semesta adalah Tuhan), dan sebutan lainnya dengan kepercayaan yang baik dengan berbakti dalam kerendahan hati masing".

Kemudian di Bhagawadgita ada sloka berbunyi begini:

(Bhagawadgita, 4:11)

Ye yathā mām prapadyante
tāms tathaiva bhajāmy aham,
mama vartmānuvartante
manusyāh pārtha sarvaśah

Dengan jalan apapun seseorang menyerahkan diri kepada-Ku,
Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu.
Semua orang menempuh jalan-Ku dengan berbagai cara, wahai putera Prtha.

Arti sloka diatas jelas tidak hanya terbatas pada Catur Marga yang dipercaya umat Hindu, bila Tuhan memang hanya menghendaki Catur marga Hindu, tidak mungkin slokanya berbunyi "APAPUN", yang penting jalan tersebut merupakan kebaikan, pasti lah sampai kepada Tuhan.

itulah yang bisa saya debat, Hindu Toleran, Dunia sudah mengakui bahwa ajaran Hindu termasuk ajaran yang toleran, mari tetap menjaga itu semua.

Tidak perlu menakut-nakuti semeton tentang neraka, karena Hindu mengenal Karma Pahala, yang berbuat baik akan berpahala baik apapun agamanya, yang berbuat buruk akan mendapat keburukan apapun agamanya.

Salam Damai,

Om Santih, Santih, Santih Om

Dewi naoli mengatakan...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Knowledge Sharing mengatakan...

saya orang non hindu dan saya menganggap postingan seperti ini bisa dimaklumi dan saya menghargai itu. terima kasih.

Wah Rojac mengatakan...

Saya ada setuju dan ada tidak setuju dlm blog ini.. Weda adalah kitab suci Hindu sby pedoman menuntun umat manusia menuju pencerahan, diarjarkan juga dlm Yayur Weda bahwa dalam meyadnya jangan sekali kali menghaturkan daging/darah ke hadapan Tuhan.. tetapi karena kondisi umat hindu yg di bali menganut Siva Bhairawa..mreka tidak sadar bahwa mreka lebih banyak melayani Bhuta kala daripada Siva itu sendiri..sy berharap semoga Weda bisa di dharma wacanakan oleh sulinggih kepada umat agar sadar hal itu..

Sedangkan hal yg tidak setuju yaitu ttg pindah agama itu hukumnya neraka, misal ia pindah dari Hindu ke Buddha, jika ia menemukan jalan yg lebih mudah di Buddha lalu mendapatkan pencerahan dan kedamaian, itu pun ia bs masuk sorga sesuai karma yg ia lakukan didunia ini

Terima kasih

sita indrajaya mengatakan...

Setuju sekali,,, pemahaman yang sangat baik,,, agama Hindu adalah universal yang selaras serta seimbang dengan yg lainnya,,, tebarkan cinta kasih bukan waham fanatik dan radikal
Om shanti shanti shanti Om

Arip astina mengatakan...

Assalamu.alaikum wr wb
Saya menghormati pendapat anda
Saudara ANDRESEN JAYAKIN

Tapi menurut saya anda terlalu menghakimi islam dan nengklaim agama anda paling benar
Kalau menurut saya agama semua benar dan bertuhan Satu (esa)
Melainkan cara prakteknya berbeda.

Ini indonesia bung kita beragam dan keberagaman itu harus di junjung tinggi kalau masalah agama jangan saling mengklaim yang paling benar sebab itu menimbulkan perpecaha n yang tak kunjung terang.
Cobalah saling menghargai satu sama lain tenggang rasa walau berbeda. KITA INDONESIA.

BAGIMU AGAMAMU
BAGIKU AGAMAKU
jangan saling mengklaim marilah menghargai walau berbeda...

Wassalamu.alaikum wr wb.

Arip astina mengatakan...

Assalamu.alaikum wr wb
Saya menghormati pendapat anda
Saudara ANDRESEN JAYAKIN

Tapi menurut saya anda terlalu menghakimi islam dan nengklaim agama anda paling benar
Kalau menurut saya agama semua benar dan bertuhan Satu (esa)
Melainkan cara prakteknya berbeda.

Ini indonesia bung kita beragam dan keberagaman itu harus di junjung tinggi kalau masalah agama jangan saling mengklaim yang paling benar sebab itu menimbulkan perpecaha n yang tak kunjung terang.
Cobalah saling menghargai satu sama lain tenggang rasa walau berbeda. KITA INDONESIA.

BAGIMU AGAMAMU
BAGIKU AGAMAKU
jangan saling mengklaim marilah menghargai walau berbeda...

Wassalamu.alaikum wr wb.

Arip astina mengatakan...

Assalamu.alaikum wr wb
Saya menghargai pendapat anda
Saudara SURYABHARATA

Memang semua agama mengajarkan pada kebaikan kebajikan dan kebenaran walaupun berebeda beda cara praktek agamanya tuhan tetaplah satu dengan banyak nama.
Saya sependapat dengan anda
Yang menanam baik berbuah baik
Begitupun sebaliknya dan apapun agamanya .... saya menghargai dan terkesan akan toleransi damai yang bapak junjung...

Kita memang berbeda
Ada islam kristen khatolik hindu budha kong hucu dls. Tapi kita tetap indonesia tetaplah damai jangan ada perpercahan...
KITA BERAGAM
JANGAN SEBELAH PIHAK MENGKLAIM UNTUK SERAGAM

TERIMAKIH
MATUR SUWON
MATUR SUKSEMA

Wassalamu.alaikum wr.wb

Varisca Velvet mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Varisca Velvet mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Varisca Velvet mengatakan...

Ayah saya orang hindu, dengan kasta AA.
Saya katolik. Ayah saya gak menerima saya sewaktu dikandungan dan bersama ibu saya hendak aborsi.
Namun gagal.
Orang bilang saya harus hindu, namun mereka gak tahu gimana saya dulunya.
Seharusnya orang yang menyandang kehormatan bisa toleran dan membiarkan saya mengingat apa yang hendak lakukan, bahkan tangan darah dari kakak" saya.

Menurut anda?
Saya boleh minta tambahan pendapat nurani anda?

Saya laki"

Ima mengatakan...

Saya Muslim, bayi yg dilahirkan tidak akan bisa memilih agamanya sendiri Sampai dia baligh dan memiliki pikiran. Agama yg dianut sejak lahir adalah agama keturunan. Jd silahkan mencari Tuhan Dan agama yang benar Krn memilih agama Dan Tuhan adalah hak asasi manusia. Gunakan akal pikiran yang diberikan Tuhan. salam