Laman

Jumat, 08 Februari 2013

Kerukunan dan Toleransi umat beragama dalam pandangan Hindu


Disampaikan oleh : dr. I Nyoman Mudiarcana

Anggota FKUB Kab. OKU-Sumatera Selatan



Pengantar

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, beraneka ragam ras, bermacam-macam golongan, beragam budaya.  Penduduknya menganut berbagai macam agama serta penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda-beda.  Hal itu merupakan Anugrah dari tuhan YME. Bagaikan pelangi diangkasa, menjadi sangat indah karena disusun oleh berbagai spektrum warna yang berbeda-beda. Atau sebuah taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga aneka warna dan tumbuh bermacam-macam pohon beraneka bentuk serta hidup bermacam-macam burung berkicau yang sangat indah.

Namun kalau tidak rukun dan bercerai-berai maka akan menimbulkan kehancuran.  Ruang yang begitu indah akan menjadi porak-poranda dan menimbulkaan penderitaan. Kehancuran dan penderitaan terjadi karena sifat-sifat manusia yang serakah, mudah marah, dan nafsu yang tidak terkendali.  Sifat manusia yang penuh nafsu, serakah dan cepat marah seringkali menimbulkan komplik di masyarakat. Kelalaian dalam  menyikapi setiap komplik kecil dimasyarakat dapat meluas menjadi bentrokan antar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), sehingga menimbulkan perpecahan yang sangat merugikan kerukunan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena itu setiap pemimpin umat beragama, tokoh-tokoh adat, komponen masyarakat lainnya maupun pemerintahan agar selalu mewaspadai, munculnya potensi komplik dilingkungannya. Dapat mendeteksi dan mengambil langkah cepat dalam mengatasi setiap potensi komplik. Dan tetap menjaga Kerukunan Antara umat beragama, suku, ras dan antar golongan.

Kerukunan hidup beragama
                                                                                                                             Kerukunan umat beragama berarti antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda bersedia secara sadar hidup rukun dan damai.  Hidup rukun dan damai dilandasi oleh toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan dan  bekerjasama dalam kehidupan sosial di masyarakat. Hidup rukun artinya hidup bersama dalam masyarakat secara damai, saling menghormati dan saling bergotong royong/bekerjasama.

Manusia ditakdirkan Hyang Widdhi sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material, kebutuhan spiritual, maupun kebutuhan akan rasa aman.

Kitab Weda (Kitab suci Umat Hindu)  memerintahkan manusia untuk selalu menjalankan Tri Hita Karana Yaitu : selalu berbakti kepada Hyang Widdhi,  hidup rukun dengan alam lingkungan, serta hidup rukun dengan sesama umat  manusia.  Dalam menjalin hubungan dengan  umat manusia, diperinthkan untuk selalu rukun tanpa memandang :  ras, kebangsaan, suku, agama, orang asing, pribumi maupun pendatang, dls. Sehingga umat Hindu selalu berdoa sebagai  berikut :

Samjnanam nah svebhih, Samjnanam aranebhih, Samjnanam asvina yunam, ihasmasu ni ‘acchalam.(Atharvaveda VII.52.1

Artinya :

Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang yang dikenal dengan akrab, Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang asing, semoga Engkau memberkahi kami dengan keserasian (kerukunan/keharmonisan)

Janam bibhrati bahudha vivacasam, nanadharmanam prthivi yathaukasam, sahasram dhara dravinasya me duham, dhruveva dhenur anapasphuranti ( Atharvaveda XII.I.45)

            Artinya :

Semua orang berbicara dengan  bahasa yang berbeda-beda, dan memeluk Agama (kepercayaan) yang berbeda-beda, Sehingga Bumi Pertiwi bagaikan sebuah keluarga yang memikul beban.  Semoga Ia melimpahkan kemakmuran kepada kita dan menumbuhkan penghormatan diantara kita, seperti seekor sapi betina kepada anak-anaknya

Bahkan umat Hindu selalu berdoa untuk keselamatan seluruh mahluk hidup, seperti bait ke 5 Puja Trisandya  yang wajib dilantunkan 3 (tiga) kali dalam sehari oleh umat Hindu yang taat :

Om Ksamasva mam mahadewa, sarwaprani hitangkara, mam moca sarwa papebyah, palayaswa Sadasiwa) yang artinya : Hyang Widdhi ampunilah hamba, semoga semua mahluk hidup (Sarwaprani) memperoleh keselamatan ( hitangkara ),bebaskan hamba dari segala dosa dan lindungilan hamba. (Keterangan. : Mahadewa dan Sadasiwa adalah nama-nama ke-Maha Kuasa-an Hyang Widdhi Wasa/Tuhan YME).

Perintah-perintah Hyang Widdhi  kepada manusia supaya selalu hidup rukun

Didalam pustaka suci weda terdapat perintah-perintah Hyang Widhi tentang hidup rukun diantaranya :

               1.      Tri Hita Karana.                                                              
               2.      Tri Kaya Parisudha,   
               3.       Catur paramita       
               4.      Tat Twam Asi
        
        1.      Tri Hita Karana

  Tri Hita Karana artinya tiga penyebab kebahagiaan yaitu :
1.      Membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widdhi Wasa/ Tuhan YME (Parahyangan)
2.      Membina hubungan harmonis antara manusia dengan manusia tanpa membedakan asal usul, ras, suku, agama, kebangsaan dll. (Pawongan)
3.      Membina hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan(Palemahan)

Ketiga-tiga hubungan yang harmonis ini dapat mendatangkan kebahagiaan, kedamaian, kerukunan bagi kehidupan manusia.

2.      Tri Kaya Parisudha
                                                                                                                                                                                              Tri Kaya Parisudha  artinya tiga perilaku yang harus disucikan yaitu :
1.     Manacika Parisudha, yaitu mensucikan pikiran, antara lain: selalu berpikir positif terhadap orang lain, berpikir tenang (manahprasadah), lemah lembut (saumyatwam), pendiam (maunam), mengendalikan diri (atmawinigrahah), jiwa suci/lurus hati (bhawasamsuddir).
2.      Wacika Parisudha, yaitu mensucikan ucapan, antara lain :  berkata yang lemah lembut, berkata yang tidak melukai hati/tidak menyinggung perasaan/tidak menyebabkan orang marah (anudwegakaram wakyam), berkata yang benar(satyam wakyam/satya wacana),  berkata-kata yang menyenangkan (priyahitam wakyam),  dapat dipercaya dan berguna.
3.      Kayika Parisudha, yaitu mensucikan perbuatan, antara lain :     bertingkah laku yang santun,  hormat pada para orang suci/pendeta,   hormat pada para guru,    hormat pada orang yang arif bijaksana,   berperilaku  suci( saucam),   benar (arjawa),  tidak menyakiti/membunuh mahluk lain (ahimsa).

Tri kaya Parisudha merupakan  petunjuk Hyang Widdhi (BG.XVII.14-16) kepada manusia dalam mencapai kesempurnaan Hidup.  Trikaya parisudha diperintahkan  supaya setiap orang selalu berpikir positip terhadap orang lain, berkata-kata yang lemah lembut dan menyenangkan orang lain, serta menghindari berperilaku yang membuat orang lain tidak senang. Melaksanakan Trikaya parisudha untuk menghindari adanya rasa kurang menghormati harkat dan martabat manusia yang dapat menimbulkan kemarahan dan rasa dendam yang berkepanjangan di antara sesama manusia.

3.      Catur Paramita

Di samping itu dalam pergaulanya di masyarakat manusia diperintahkan untuk  selalu mendasarkan tingkah lakunya kepada Catur Paramita” yaitu : 
1.      Maitri, mengembangkan rasa kasih sayang. 
2.      Mudhita, membuat orang simpati. 
3.      Karuna, suka menolong.  
4.      Upeksa, mewujudkan keserasian, keselarasan, kerukunan  dan keseimbangan   

4.      Tat Twam Asi

Apabila diterjemahkan secara artikulasi Tat Twam Asi berarti Itu adalah Aku atau kamu adalah aku. Dalam pergaulan hidup sehari-hari  manusia diperintahkan selalu berpedoman kepada Tat Twam Asi, sehingga tidak mudah melaksanakan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan bahkan dapat menyakiti hati orang lain dan pada akhirnya menimbulkan rasa iri hati  benci dan kemarahan.  Dengan menganggap orang lain adalah diri kita sendiri, berarti kita memperlakukan orang lain, seperti apa yang ingin orang lain lakukan terhadap kita.

Tat Twam Asi menjurus kepada Tepa Selira atau Tenggang Rasa yang  menuntun manusia dalam berpikir, berkata-kata  dan berperilaku,  sehingga tidak berpikir negatif terhadap orang lain, tidak berkata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain,  dan tidak berperilaku  yang dapat merugikan orang lain.

Musuh-musuh dalam diri manusia penyebab terganggunya Kerukunan dan ketentraman :

Ada enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikalahkan untuk meningkatkan spiritualitas manusia, sekaligus bermanfaat menciptakan kerukunan dan kedamaian Umat manusia.  Ke-enam musuh yang ada pada manusia disebut Sad Ripu yaitu :
1.      Kama artinya sifat penuh nafsu indriya terutama nafsu sex.
2.      Lobha artinya sifat loba dan serakah.
3.      Krodha artinya sifat  pemarah/mudah marah.
4.      Mada artinya sifat suka mabuk-mabukan
5.      Moha artinya sifat  angkuh dan sombong.
6.      Matsarya artinya  sifat dengki dan iri hati

Selain enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikalahkan,  adalagi yang disebut Sad Atatayi,  yaitu enam kejahatan yang  membuat manusia menderita, sehingga dilarang untuk dilakukan  yaitu :
1.      Agnida: membakar milik orang lain.
2.      Wisada: meracuni dengan racun ( insektisida maupun bahan kimia atau obat-obat terlarang) orang lain atau mahluk lain.
3.      Atharwa: menggunakan ilmu hitam (black magic, misalnya santet, sihir, gendam, leak dll) untuk menyengsarakan orang lain.
4.      Sastraghna: mengamuk atau membunuh .
5.      Dratikrama: memperkosa termasuk juga pelecehan sexual.
6.      Rajapisuna: memfitnah

Dalam Bhagavadgita XVI.21-22. Kama (nafsu sex), krodha (marah) dan lobha (serakah) disebutkan sebagai tiga jalan menuju neraka (Triwidham narakasye’dam), Jalan untuk menuju kehancuran diri (dwaram nasanam atmanah ), sehingga ketiganya harus disingkirkan (tasmad etat trayam tyajet) dari diri manusia. Orang yang bisa membebaskan diri dari Kemarahan, Keserakahan, dan Nafsu sexual yang tidak pantas dan berbuat untuk kemuliaan Tuhan YME akhirnya bisa mencapai tempat yang tertinggi ( sorga bahkan moksa)

Kemarahan atau orang yang marah  dapat  menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Kemarahan yang di ujudkan dengan kekerasan,  misalnya membunuh, membakar, mencelakai dan lain sebagainya mengganggu ketentraman dan kedamaian.

Orang yang cepat marah atau sering marah-marah dapat menderita   berbagai  penyakit diantaranya : serangan jantung, hipertensi, stroke dan  radang lambung (maag). Kenapa orang yang sering marah atau cepat marah mudah terserang penyakit tersebut ?,  mekanismenya sebagai berikut :

Pada saat marah,  tonus syaraf simpatis akan meningkat. Syaraf simpatis mempunyai target organ diantaranya di pembuluh darah, jantung dan glandula adrenal dan ginjal.  Pada pemuluh darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah, pada jantung menyebabkan denyut jantung meningkat, pada glandula adrenal memacu keluarnya hormon adrenalin yang menyebabkan pembuluh darah menyempit dan jantung berdebar-debar, sedangkan pada ginjal memacu apparatus juxta glomerularis untuk mengeluarkan renin.... dst menyebabkan penyempitan pemuluh darah dan tertimbunnya cairan pada pembuluh darah.   Pembuluh darah menyempit sementara pompa jantung bekerja sangat kuat ditambah tertimbunnya cairan pada pembuluh darah menyebabkan tekanan dalam pembuluh darah sangat tinggi (Hipertensi). Tekanan darah tinggi yang tidak bisa diatasi oleh pembuluh darah bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah, kalau diotak disebut STROKE dan kalau di jantung bisa menyebabkan mati mendadak(SADDEN DEATH). Kemarahan juga memacu syaraf parasimpatis  pada lambung,  sehingga lambung mengeluaran asam lambung,  penyebab    radang lambung (penyakit maag). Oleh karena itu kendalikan kemarahan dengan selalu BERSABAR.

Keserakahan, misalnya:  mengurangi hak orang lain, menggelapkan hak orang lain, korupsi, memindahkan patok/batas-batas tanah, merampas secara paksa hak-hak  orang lain, dll  dapat menimbulkan penderitan pada orang lain. Apabila si korban tidak bisa menerima perlakuan tersebut dapat menimbulkan percekcokan yang ujung-ujungya kerukunan terganggu.

Sedangkan Nafsu seksual  yang tidak pada tempatnya (berzinah) dapat menimbulkan berbagai penyakit kelamin, HIV/AIDS dan bahkan menimbulkan pertengkaran. Oleh karenanya marah, serakah dan nafsu disebut dalam kitab suci Weda(BG. XVI.21 ) merupakan tiga jalan menuju neraka, jalan menuju kahancuran diri (Triwidham narakasye’dam,dwaram nasanam atmanah)

Kerukunan beragama dalam sejarah di Indonesia
                                                                                                                        
Pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia, perselisihan antara sekte-sekte agama Hindu (sekte: Brahmanisme, Waisnawa,  Siwaisme,  Pasupata, Sora, Kala, Sakta,  Bairawa,  Ganapateya dll) dirukunkan oleh Mpu Kuturan.  Mpu Kuturan yang menjabat sebagai penasehat Raja Udayana ( Th.989-1011 M) menggabungkan berbagai sekte keagamaan Hindu yang ada di Bali menjadi tiga sekte besar. Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti yang diaktualisasikan dalam bentuk Kahyangan Tiga, yaitu : Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem, yang disungsung oleh tiap-tiap Desa pekraman(desa Adat) di Bali.

Perbedaan antara Siwaisme dan Budisme di Indonesia, dirukunkan oleh Mpu Tantular di jaman Majapahit(Th.1380 M) menjadi Agama Siwa-Budha, yang tertuang dalam buku Sutasoma, dimana Purusadha mewakili Siwaisme dan Sutasoma mewakili Budhisme.  Didalam Buku Sutasoma terdapat kalimat  Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa “, artinya : Meskipun berbeda-beda  tetap Satu, tidak ada kebenaran mendua.

Penyatuan sekte-sekte ini tidak bertentangan dengan Weda, kitab sucinya umat Hindu, kitab yang  berasal dari Hyang Widdhi, seperti dinyatakan langsung oleh Hyang Widdhi dalam BG. XV.15  Weda ntakrid wedawid ewa ca ‘ham/ Akulah pencipta weda dan Aku yang mengetahui isi weda.  Kitab Weda disebut juga  sastrawiddhi/ sastra brahman karena berasal dari Hyang Widdhi/Brahman/Tuhan YME.

Didalam Weda (Rg.Veda I.64.46) terdapat mantra  berikut : Ekam sadvipra bahudha vadanti, yang artinya : Ia adalah Esa (Ekam Sad=Ia Satu/Esa). Para bijaksana(Vipra=orang bijak) menyebut dengan berbagai nama (bahudha vadanti=menyebut dengan berbagai nama ).

Penyatuan Siwa-Budha tidak otomatis membuat umat Budhis menjadi Siwaisme atau sebaliknya penganut Siwaisme menjadi Budhis. Penyatuan hanya dalam tataran sosial kemasyarakatan.Dengan konsep agama Siwa-Budha para  menganut Siwaisme dan Budhisme bisa hidup rukun, meski tetap dalam perbedaan tata cara ritual, tempat ibadah maupun penyebutan terhadap nama Tuhan Yang Maha Esa. 

Bahkan saat upacara besar seperti Tawur Agung ke Sanga, menjelang tahun baru Saka/NYEPI),  ke empat Pendeta yaitu, Pendeta Siwa, Pendeta Waisnawa, Pendeta dari Brahmanisme dan Pendeta Buddha secara bersama-sama muput upacara Tawur Agung Kesanga.



Untuk mendapat gambaran lebih  lanjut,  di bawah ini akan disampaikan beberapa mantra/sloka Kerukunan yang terdapat dalam Kitab Weda : 

1.      Mantra-mantra yang memerintahkan manusia saling mencintai satu dengan lainnya, berkata-kata yang lembut, menahan nafsu dan amarah dan pengendalian diri/pengendalian indriya.

Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat-sifat ketulusan, keikhlasan, mentalitas yang sama dan perasaan berkawan tanpa kebencian (permusuhan). Seperti halnya induk sapi mencintai anak-anaknya yang baru lahir, begitulah seharusnya kalian saling  mencintai satu sama yang lain.( Sahrdayam sammanasyam, avidvesam krnomi vah, anyo anyam abhi haryata,  vatsam jatam ivighnya) ( Atharvaveda III. 30.1)

Wahai umat manusia, berbicaralah dengan kata-kata yang lebih manis dari pada mentega dan madu yang dijernihkan (Ghrtat svadiyo madhunas ‘cavovata)   ( Rg.veda. VIII.24.20)

Seseorang yang berbicara dengan kata-kata yang manis menerima berkah (dari Hyang   Widdhi ) (Apnoti sukta vakena asisah )( YayurvedaXIX.29)

Dia yang dapat menahan nafsu birahi dan amarah didunia ini, sebelum meninggalkan jasad raganya, dia adalah Yogi, dia adalah orang yang bahagia. (Saknoti ‘hai wa yah sodhum,  prak sarira wimoksanat, kamakrodhadbhawam  wegam, sa yuktah  sa sukhi ’narah). (Bhagavadgita V.23)

Menguasai panca indriya, perasaan dan pikiran, seseorang Muni yang berhasrat mencapai kelepasan (moksa), membuang jauh-jauh nafsu, takut dan murka/marah,  mereka akan mencapai moksa. ( Yatendriya mano bhuddir, munir moksaparayanah,   wigateccha bhaya krodha, yah sada mukta cwasah). (Bhagavadgita V.28)
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             2.      Mantra-Mantra yang memerintahkan untuk saling  bertoleransi dalam ber-agama/ berkepercayaan kepada Tuhan YME dan tidak saling bermusuhan dan selalu mengusahakan kesejahteraan umat manusia

Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua mahluk, bagi-Ku tidak ada yang paling Aku benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi, tetapi yang berbakti kepadaku, Dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya / Samo ‘ham sarvabhutesa, na medewsyo ‘sti na priyah, ye bhajanti tu mam bhaktya, mayite besu ca’pyaham, (Bhagavadgita IX.29)
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
Denganalan apapun  manusia mendekati-Ku,  semuanya Kuterima sama,  manusia menuju jalan-Ku dari berbagai jalan. /Ye Yatha Mam Prapadyante,Tams Tathal Va Bhajamy Aham,   Mama Vartma Nuvartante, Manusyah Partha Arvasah,    (Bhagawadgita, IV.11)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut Agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera/ Yo yo yam yam tanum bhaktah,sraddaya 'rcitum icchati,     tasya-tasya calam sraddham, tam ewa widadhamyaham (BG.VII.21)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka berbakti pada keyakinan itu pula dan dari padanya memperoleh harapan mereka, yang sebenarnya hanya dikabulkan oleh-Ku/ Sa taya sraddhaya yuktas, tasya radhanam ihate, labhate ca tatah kaman, mayai wa wihitan hi tah, (Bhagavadgita VII.22)

Akan tetapi hasil yang didapat mereka, orang-orang yang berpikiran picik adalah sementara, Yang menyembah Dewata pergi ke pemujaan Dewa-dewa, tetapi para pemuja-Ku datang langsung kepada-Ku/ Antawat tu phalam sesam, tad bhawatu alpamedhasam, dewam dewayajo yanti, mad bhakta yanti mamapi ( Bhagavadgita VII.23).

Yang bekerja untuk-Ku,menjadikan Aku sebagai tujuan utama,selalu berbakti kepada-Ku, tiada bermusuhan tehadap semua insani ( semua umat manusia), dia sampai kepada-Ku/Matkarmakrin matparamo, madbhaktah sangavarjitah, nirvairah sarvabhuteshu, yah sa mam eti (BG. XI.55)

Dengan menahan panca indrya dan hawa nafsu, selalu seimbang (tenang) dalam segala situasi, selalu berusaha untuk kesejahteraan umat manusia (semua insani), mereka juga sampai kepada-Ku/Samniyamye ‘ndriyagramam, sarvatrasamabuddhayah, te prapnuvanti mam eva, sarvebhutahite ratah (BG.XII.4)
3.      Perintah Hyang Widdhi supaya umat manusia hidup Bersatu dan Rukun

Didalam Atharvaveda III.30.4 . Hyang Widdhi bersabda :

Wahai umat Manusia, persatuanlah yang menyatukan semua para Dewa, Aku memberikan yang sama kepadamu juga sehingga kalian mampu menciptakan persatuan diantara kalian./ Yena deva naviyanti, no ca vidvisate mithah, tat krnmo brahma vo grhe,samjnanam purunebhyah

Karena Aku berada dalam tubuh manusia, mereka yang dunggu tidak menghiraukan Aku, tidak mengetahui prakerti-Ku yang lebih tinggi, sebagai raja agung alam semesta/Awajananti mam mudha, manusim tanum asritam, param bhawam ajananto, mama bhutamaheswaram (BG. IX.11)

Dia yang melihat Tuhan bersemayam didalam semua mahluk, yang tidak dapat dimusnahkan, walaupun berada pada mereka yang dapat musnah, sesungguhnya ialah yang melihat. (BG. XIII.27))/samam sarwesu bhutesu, tistantam parameswaram, winasyatawa awinasyantam,yah pasyati sa pasyati

Sesungguhnya ia yang melihat Tuhan bersemayam sama dimana-mana, ia tidak akan menyakiti jiwa dengan jiwa dan ia pun mencapai tujuan utama(BG.XIII.28)/Samam pasyani hi sarwatra, sama wasthitam iswaram,na hinasty atmana’tmanam,tato yati param gatim(BG.XIII.28)

Dari beberapa kutipan tersebu dapat ditarik kesimpulan bahwa semua manusia diperintahkan untuk hidup rukun dan hidup saling hormat mengormati, karena didalam diri manusia terdapat dzat hidup yang merupakan percikan Tuhan yaitu  Atma.  Atman Brahman Aikiam  yang artinya setiap orang mempunyai inti dari percikan suci yang sama yaitu Brahman/Tuhan YME. Sehingga setiap orang harus memperlakukan orang lain ( tidak perduli suku, ras, kebangsaan, kepercayaan, agama dll) sama. Seperti ia memperlakukan dirinya sendiri. Karena semua mahluk hidup berasal dari dzat yang sama, maka semua mahluk adalah satu keluarga, disebut juga Vasudaiva kutumbakam




Fanatisme buta menutup toleransi dan kerukunan umat beragama

Keyakinan terhadap perintah Trikayaparisudha, Tat Wam Asi, Tri Hita Karana,  catur paramita serta Atman Brahman Aikiam, Sad Ripu dan Sad Atatayi menuntun manusia untuk mensucikan diri  dari kebodohan dan kegelapan batin, dan menjauhkan diri dari sikap marah, serakah dan nafsu.  Sikap-sikap negatif yang sering muncul  diakibatkan oleh ketidaktahuan (avidya), juga  didorong oleh sikap fanatisme buta yaitu sikap yang tidak mau menerima kebenaran dari sumber lain (buku-buku lain),  suatu sikap yang hanya meyakini kebenaran mutlak hanya ada pada  satu sumber.

Penganut sikap fanatisme buta ini tidak menyadari  bahwa Tuhan YME adalah maha segalanya, sehingga membatasi kemahakuasaannya hanya pada satu kelompok agama, atau satu kelompok bangsa  tertentu.  Fanatisme yang buta sering  menganggap rendah agama lain namun sensitif terhadap agamanya sendiri.   Sikap seperti ini sering sekali meminta korban  darah bahkan nyawa manusia untuk dipersembahkan atas nama Tuhannya.

Munculnya sikap fanatisme buta semata-mata karena pengetahuan dan pemahaman yang sempit terhadap agamanya sendiri dan tidak membuka diri untuk mengetahui kebenaran dari sumber-sumber lain. 

Di samping sikap fanatisme buta tersebut ada juga sikap yang toleran yang dapat mewujudkan rasa kerukunan umat beragama,  sikap taat pada agama yang dipeluknya tetapi tidak merendahkan agama lain. Sikap semacam ini muncul  karena  memiliki pengetahuan yang baik tentang agamanya dan juga membuka diri untuk mendengar kebenaran lain dari berbagai sumber, termasuk kebenaran yang terdapat dari agama  lain.


Langkah-langkah meningkatkan kerukunan umat beragama

Untuk  meningkatkan kerukunan hidup beragama, langkah yang paling penting dilakukan adalah :

·     Mengajarkan kepada setiap umat beragama untuk selalu berpikir positif terhadap orang lain, bertutur kata yang tidak propokatif dan tidak membuat pendengarnya sakit hati,  berperilaku baik, seperti : tidak melanggar norma-norma umum,  norma kesusilaan, norma adat istiadat,  maupun norma hukum negara/tidak melanggar hukum Negara.

·   Menumbuhkan penghargaan,  saling pengertian, toleransi,  serta  belajar untuk saling memahami diantara umat beragama. Dan tidak berbuat hal-hal yang dapat menyinggung sentimen keagamaan.

·  Untuk menumbuhkan penghargaan dan saling pengertian, maka setiap umat bergama, hendaknya mengerti secara baik dan benar tentang agamanya sendiri dan dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup dan benar tentang agama lainnya, sehingga mengetahui hal-hal baik di agama lain dan mengetahui pula hal-hal yang sangat dilarang/ditabukan/diharamkan di agama lain.


·     Para pemimpin agama bekerja sama dengan pemimpin agama lainnya (Islam, Hindu, Kristen,     Budha dan Konghucu) untuk mengatasi musuh bersama umat manusia yaitu : Keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan penyakit sosial lainnya.

·     Para pemuka agama, pemimpin lembaga-lembaga keagamaan dan pemerintah, supaya selalu mempromosikan :  toleransi, kerukunan dan kedamaian diantara para pemeluk agama di masyarakat, sekolah-sekolah umum, sekolah-sekolah keagamaan, maupun ditempat-tempat ibadah.

·    Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) lebih diberdayakan sampai kedesa-desa, dengan lebih sering mengadakan dialog-dialog kerukunan, sekaligus sebagai ajang silaturahmi antar umat beragama.

·         Dalam momen-momen hari penting Bangsa Indonesia, seperti HUT RI, Hari Sumpah Pemuda dls. pemerintah supaya mempasilitasi kegiatan-kegiatan yang bernuansa Kerukunan dan persatuan bangsa, seperti mensponsori seminar/simposium kerukunan beragama dengan melibatkan komponen perwakilan agama-agama.


 Penutup

Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan  dalam forum  ini,  semoga  peserta Forum dialog ini dapat bertindak sebagai pejuang kerukunan umat beragama dan pelopor kerukunan dimanapun berada. Mudah-mudahan dikemudian hari Negara dapat menyediakan satya lencana khusus bagi para pejuang kerukunan beragama.  Serta menghukum seberat-beratnya propokator yang anti kerukunan yang selalu berlindung dibalik isu SARA.

 Om sarve sukhino bhavantu, sarve sàntu niramayaá, sarve bhadràni pasyantu, ma kaucid duákha bhag bavet

Semoga Hyang Widhi menganugrahkan kebahagian kepada semua mahluk,  menganugrahkan kedamaian kepada kami semuanya,  menganugrahkan saling pengertian dan pandangan yang baik di antara kami, Semoga Hyang Widdhi menjauhkanlah kami semua dari segala kedukaan dan halangan.

Om Sànti Sànti Sànti Om.                                                                                                                    Semoga damai, damai di langit, damai di bumi, damai di hati dan damai dimana-mana.



ARTIKEL LAINNYA







Tidak ada komentar: