Laman

Kamis, 14 Februari 2013

Membaca Bhagawad Gita=Sembahyang








Adhyesyate ca ya imam dharmyam samvadam avayoh,
jnyanayadnyena tena'ham istah syam iti me matih.
(Bhagawad Gita XVIII.70)

Artinya :

Dia yang selalu membaca percakapan suci ini (Bhagawad Gita), Aku anggap dia menyembah-Ku dalam wujud Jnyana Yadnya (Yadnya dengan ilmu pengetahuan).

Membaca Bhagawad Gita serta meresapi arti yang terkandung didalamnya  sama dengan sembahyang memuja Hyang Widdhi Wasa . Setiap hari membaca Bhagawad Gita merupakan pemujaan kepada Hyang Widdhi dengan jalan  Jnyana Yadnya. Apa yang dinyatakan dalam  Bhagawad Gita itu adalah sabda Hyang Widdhi  yang harus dipercaya dan dilaksanakan.

Syair suci Bhagawad Gita, dikidungkan dengan metrum Anustup,  yaitu sejenis wirama/kekawin/syair bahasa Sansekerta dengan suku  kata berjumlah delapan. Kalau tepat cara melantunkan syairnya dapat menggetarkan bioton-bioton/partikel-partkel alam yang ada di sekitar kita hingga mampu menembus alam kedewatan.

Dengan alunan kidung suci dengan metrum anustup dapat pula menyejukan alam sekitar termasuk yang mendengar alunan kidung suci ini, Srinuyad api yo narah,so’pi muktah subham lokam prapnuyat punya karmanam (BG.XVIII.71)/walaupun hanya mendengar alunan suci ini ia juga akan terbebaskan, mencapai dunia kebahagiaan dan akan mencapai kebajikan dalam berperilaku/karma.

Dengan membaca atau mendengar orang membaca Bhagawad Gita keragu-raguan dalam berbuat menjadi hilang, kekacauan pikiran menjadi musnah, ingatan akan tanggung jawab menjadi pulih. seperti yang dialami oleh Arjuna dan dinyatakan oleh Arjuna dalam BG. XVIII.73 berikut :

Nasto mohah smritir labdha, twatprasadan maya ‘cyuta, sthito’smi gatasamdehah krisye wacanam tuwa

Kekacauan pikiranku telah musnah, ingatan ku telah pulih kembali, karena rakhmat-Mu  aku berdiri tegak, keragu-raguanku telah lenyap dan aku akan bertingak sesuai dengan perintah-Mu.

Membaca sloka demi sloka pustaka Bhagawad Gita sama dengan sembahyang. Hal ini  jangan disalah artikan bahwa kalau sudah membaca Bhagawad Gita tidak perlu lagi sembahyang. Membaca Bhagawad Gita hendaklah di mengerti arti tiap sloka-slokanya dan sekaligus diterapkan atau dilaksanakan setiap perintah-perintahnya. Sehingga tidak ada dikotomi antara membaca Bhagawad gita dengan kewajiban umat Hindu yang lain.

Bahwa intisari dari perintah Bhagawad Gita terletak pada sloka XVIII. 5 yang berbunyi sebagai berikut :

Yajno dana tapah karma na tyajyam karyam ewa tat, yajno danam tapas cai’wa pawanani manisinam

Beryadnyaa, berdanapunia, bertapabrata dan berkarma (yang baik)  jangan diabaikan, melainkan harus dilakukan sebab dengan beryadnya berdanapunia bertapabrata adalah untuk mensucikan diri bagi orang arif bijaksana.

Jadi Sembahyang dan membaca Bhagawad Gita sambil berdana punia dan mengendalikan diri (tapabrata) dan berperilaku subha karma, seyogianya dipadukan,  sehingga apa yang dijanjikan dalam Bhagawad Gita dapat tercapai.

Kalau diringkaskan perintah Bhagawad Gita mencakup :
1.      Selalu ber sembahyang dan memusatkan pikiran kepada Hyang Widdhi ( BG. XVIII.65)
2.      Berlindung hanya kepada Hyang Widdhi (BG.XVIII.62)
3.      Yadnya : melaksanakan yadnya sebagai wujud bhakti kepada  Hyang Widdhi.(BG.XVIII.5)
4.      Dana : Berdanapunia (bersedekah) di tempat-tempat yang pantas misalnya di Pura atau di panti-panti asuhan, panti-panti jompo dan daerah bencana (BG.XVII.20)
5.      Tapa :Pengendalian diri terhadap  pikiran, kata-kata, perbuatan, makan, minum dan nafsu birahi (BG. XVII.14-16 dan  BG.V.23)
6.      Berperilaku subhakarma, menjauhkan diri dari sad ripu dan sad atatayi
7.      Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau dermakan, tunjukkan sebagai bhakti kepada Hyang Widdhi.
8.      Selalu membaca kitab suci Bhagawad Gita  atau  mendengarkan orang membaca Bhagawad Gita (BG.XVIII. 70-71)
9.      Menjauhi tiga jalan ke Neraka yaitu : Kama/nafsu seksual, Krodha/marah  dan lobha/serakah  (BG. XVI.20) dan selalu berbuat untuk kemuliaan Atma.
10.  Jangan meninggalkan Weda (sastrawiddhim), karena meninggalkan Weda (= meninggalkan agama Hindu) tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi yaitu sorga atau Moksa. (BG.XVI.23)
11.  Jangan mencari Dewa-dewa lain/Tuhan lain selain Tuhannya Agama Hindu (BG. VII.20), Karena dengan harapan yang sia-sia, perbuatan yang sia-sia dan tanpa kesadaran mereka mengikuti jalan keliru oleh pengaruh jahat Raksasa dan Asura (=setan) yang menyesatkannya (BG. IX.12)

Sebagai penutup saya kutipkan BG. VII.20

Karmais tair-tair hritajnanah,  prapadyante ‘nyadewatah, tam-tam niyamam asthaya, prakrtitya niyatah swaya

Mereka yang dikendalikan oleh nafsu duniawi, oleh karena pengetahuannya yang keliru, pergi ke tempat pemujaan dewa-dewa lain ( selain dewa-dewa Hindu.  red.), mereka itu berpegang pada aturan  menurut cara-cara mereka sendiri.


Tulisan ini disarikan dari :  
Kitab Bhagawad Gita yang dturunkan oleh Hyang Widdhi wasa dalam manifestasi sebagai Awatara Wisnu ( Sri Krisna= Narayana= Paramabrahma= Purusautama=  Maha Iswara)  kepada Arjuna yang dilihat dan  dicatat oleh Maharsi Wiyasa. 


Bacaan terkait : 


ARTIKEL LAINNYA

Tidak ada komentar: