Laman

Sabtu, 24 Maret 2012

IBRAHIM KETURUNAN BANGSA KURU ?


Oleh : Wicaksono

            IBRAHIM yang membangun kuil Kabah berasal dari daerah atau tempat yang bernama KORA. KORA/KURU adalah sebutan untuk Anak-anak keturunan KURU/PURU/KORA yang ada di Baratawarsa Hindustan.  Keturunan Bangsa KURU disebut KORAWA. KORAWA dan PANDAWA merupakan aktor Utama dalam perang Bharatayuda tahun 3138 SM.

             IBRAHIM berasal dari  tempat yang bernama KORA. KORA disebut juga  KURU atau PURU. Anak cucu langsung Orang KORA disebut KORAWA/KURAWA (kata WA di akhiran kata KORA berarti Keturunan). KORAWA disebut juga PURURAWA. Sedang KORA yang menjadi RESI/WASI atau Brahmana  disebut juga KURURESHI= KURUWASI= KURARISHI= QURAISI.

            Pendiri kekaisaran Persia adalah KURUS YANG AGUNG disebut Juga KORES YANG AGUNG atau KORESY YANG AGUNG, sedang lidah orang Yunani menyebut KORES/ KURUS/ KORESY dengan sebutan CYRUS. KORES/ KURUS/ KORESY/ CYRUS adalah orang Kuru (ARYA) yang pada th 590-529 SM  mendirikan kekaisaran Persia ditanah ARYAWARTA=IRAN

              Seseorang yang sudah menjadi Resi atau Wasi atau pendeta dalam agama Weda disebut juga BRAHMIN atau BRAHMANA.  Karena kebiasaan  orang arab mengeja atau membaca dari belakang, maka BRAHMIN di ucapkan IBRAHIM. Sedang orang Yahudi atau Kristen menyebutnya ABRAHAM dari Kata BRAHMANA.

             ABRAHM terdiri dari dua kata sansekerta, A berarti dari, dan BRAHM  berarti BRAHMA.  ABRAHM dalam bahasa sansekarta berarti DARI BRAHMA atau Pengikut BRAHMA, salah satu sekte Agama Hindu yaitu BRAHMANISME. Kata A bisa juga berarti lawan dari kata dibelakangnya, Jadi ABRAHM bisa juga berarti BUKAN BRAHMANA LAGI.

             Dalam kitab Bagawad Gita VIII.16 ada kalimat : ABRAHM BHUANA LOKA yang artiny  DARI ALAM BRAHMA. Ini membuktikan bahwa ABRAHAM=ABRAHM atau IBRAHIM adalah  Mantan Seorang Brahmana  yang merantau ke negeri seberang (Timur Tengah),  ABRAHAM/IBRAHIM disebut juga orang KAURAN atau orang MUHAJIRIN  atau EMIGRAN.

             Bangsa KURU atau KORA atau  KAURA atau KAURAN adalah  Bangsa yang menjadi aktor utama perang saudara Bharatayuda tahun 3138 SM, di KURUSETRA antara PANDAWA dengan KURAWA .  Pandawa dan Kurawa adalah saudara sepupu keturunan Bangsa KURU. 

              Orang arab menyebut Nabi IBRAHIM berasal dari KAURUN/KAURA yang dalam bahasa Arabnya disebut Muhajirin yaitu seorang EMIGRAN asing.  bahasa yang digunakan Nabi IBRAHIM disebut HEBREW yang artinya bahasa seberang. Rakyat Timur tengah  waktu itu telah mengakui bahwa IBRAHIM adalah orang sebrerang yaitu dari  KAURAWA.

              Kemungkinan besar IBRAHIM=BRAHM=BRAHMIN= adalah salah satu keturunan Bangsa KURU/KAURUN/KAURAWA yang sudah menjadi RESI atau Wasi atau Pendeta atau Pertapa  yang memisahkan diri dari kelompoknya di Bharatawarsa, akibat perang Bharatayuda tersebut

IBRAHIM atau BRAHMIN dari bangsa KURAWASI =KURARESI=KURURESI= KURURISHI= KURAISI= QURAISI),  sampai di sebuah padang pasir  yang banyak ditemukan Kuda maka daerah padang pasir tersebut disebut Padang ARAVAH  ( dari kata ARAVA  yang berarti Kuda),.  Ditengah-tengah padang ARAVAH ditemukan oase yang banyak dihuni oleh Domba, daerah tersebut kemudian disebut MEKKAH  (dari kata MEKKA=MESHA=DOMBA).

IBRAHIM = ASWATAMA ???? apa ya   ????

Dalam masa  Hidupnya Aswatama mengabdikan dirinya sebagai prajurit (Ksatrya) di kalangan bangsa KORA/KORAWA. Dan tinggal dikalangan Bangsa KORA/KORAWA, sehingga boleh disebutkan bahwa Aswatama berasal dari wilayah yang bernama KORA, yaitu wilayah yang dikuasai dan diperintah oleh kaum KORAWA sepupu PANDAWA.

Setelah kalah dalam perang Baratayudha   (tahun 3138 SM), Aswatama membunuh ke lima putra Drupadi yang sedang tidur dan pembunuhan itu dilakukan dalam keadaan perang sudah usai/berhenti. Tidak puas membunuh kelima putra Drupadi, Aswatama juga mencoba membunuh Janin dalam kandungan Utari, istri Abimanyu. Akibat tindakannya yang membabi-buta maka kesaktian ASWATAMA sebagai KSATRIYA dilucuti oleh Sri Krisna, dan mau di BAKAR oleh Arjuna dengan senjata  BRAHMASTRA,  Permata yang selalu melekat di dahi Aswatama ( apa ini yang kemudian menjadi Hajard Aswat di Mekkah ya  ???? perlu penelitian lebih lanjut) dilepaskan dari dahi Aswatama dan kesaktiannya dicabut. Aswatama dikutuk untuk tidak pernah mempunyai kasih sayang seorang anak. Aswatama dikutuk tidak bisa mempunyai Anak/keturunan, karena usahanya membunuh bayi dalam kandungan Utari dan Ibu-ibu yang sedang hamil di Hastina  kerajaannya orang-orang KORAWA/KORA

Atas Perlindungan dan Jaminan  MAHARSI WIYASA Aswatama di ampuni dan merantau ke arah Barat guna penebusan dosa dan  mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa guna melepaskan diri dari dosa-dosa dan melepaskan diri dari Karma yang telah diperbuatnya (melepaskan diri dari kutukan)                                         
Aswatama anak Rsi Drona, tidak gugur dalam perang Baratayuda di Kurusetra, Aswatama, pergi kearah barat menyebrangi lautan guna melakukan penebusan dosa,  dan terdampar disebuah tempat di tanah Mesir dan menetap disana.  Tempat Aswatama tinggal kemudian disebut ASWAN, dari kata Aswattama, kesatrya penunggang kuda yang hebat, Aswa kadang dieja ASVA=ARVA=ARAVA, juga berarti Kuda. Ingat Korban ASWA MEDHA YADNYA yang dilaksanakan oleh Maharaja Janamejaya, yang berarti mengorbankan KUDA, karena Kuda=ASWA=ASVA=ARVA=ARAVA.

             ASWATAMA adalah anak seorang Brahmana yaitu Pendeta Dronacarya, tetapi kemudian menjadi KSATRIYA sehingga  bukan brahmana lagi  sehingga disebut ABRAHM yang artinya Bukan Brahmana lagi, tetapi berasal  dari Brahmana. ABRAHM BUANA LOKA artinya dari alam Brahma

              ASWATAMA, berasal-usul seorang Brahmana ( = ABRAHM=DARI BRAHMA/DARI BRAHMANA), kemudian meninggalkan dharmanya sebagai Brahmana (=ABRAHM) dan beralih profesi sebagai seorang KSATRIYA, kalah dalam perang,  kemudian Hijrah ke Timur Tengah menjadi EMIGRAN/ MUHAJIRIN. 

ASWATAMA yang berasal dari wilayah  KORA/KORAWA kemudian memutuskan hidup sebagai RESI/PERTAPA/BRAHMANA lagi untuk melakukan penyucian diri dan melepaskan diri dari semua karma yang telah dilakukannya selama  memilih hidup sebagai seorang Ksatrya di pihak KORAWA.  Di tanah yang sangat tandus di Timur Tengah beliau mendirikan tempat pemujaan/Kuil dan secara tekun mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan YME.   Kuil itu diberi nama Kuil  KAWAH/KAVAH untuk mengingatkan KAWAH/KAVAH CANDRADIMUKA yang ada di PADANG PAGANGSARAN yaitu padang pasir di Lintasan menuju SORGA dan NERAKA.

             Pendirian tempat Pertapaan di tengah Padang Pasir merupakan cara penebusan Dosa ASWATAMA karena telah membunuh ke lima Anak DRUPADI yang sedang tidur pulas dan membunuh (meski dihidupkan kembali oleh Krisna) Bayi dalam Kandungan-nya  UTARI  istri Abimanyu beserta bayi-bayi dalam kandungan ibu-ibu  di Hastina kerajaannya KORAWA yang telah kalah perang dengan Pandawa..

 Upaya keras penebusan dosa yang dilakukan oleh Aswatama berhasil menggugah simpati Tuhan YME, sehingga Aswatama dikaruniai Keturunan meskipun saat itu Usia Aswatama sudah cukup tua untuk seorang bisa memperoleh keturunan.

             KAWAH/KAVAH  CANDRADIMUKA terletak di tengah GURUN PASIR PADANG PAGANGSARAN, dengan Api yang selalu menyala-NYALA dan besi panas runcing ditengah-tengah dan dinding-dinding kawah. Mereka yang berhasil melewati TITIAN UGAL AGIL/TITI GONGGANG yang terbentang diatas KAWAH CANDRADIMUKA diberikan kesempatan untuk  masuk ke pintu gerbang yang bercabang dua yaitu PINTU SORGA atau PINTU NERAKA guna menghadapi peradilan SORGA.

              Dalam tradisi Hindu, API merupakan simbol suci, sebagai SAKSI dalam setiap ritual keagamaan Hindu. Di sekitar API yang menyala umat berkelilingi (Pradaksina) sebagai bentuk Ritual Hindu. Ritual yang selalu menggunakan Api Menyala sambil ber japa mantra HAI RAM...HAI RAM...HAI RAM, dan melempar mentega biasa dilakukan oleh umat Hindu.

  KA'ABAH, berasal dari kata KAWAH atau KAVAH yang berarti PANAS/API, merupakan gambaran KAWAH candradimuka yang ada di sorga, huruf V dibaca W atau B seperti kata VIHARA = WIHARA = BIARA

              Zaman  sekarang Kuil  KA,ABAH disebut juga MASJIDIL HARRAM mirip dengan  HARIRAM atau HAIRAM, Japa mantra yang selalu diulang-ulang oleh penganut sekte Waisnawa sekte dalam agama Hindu saat ini, HAI RAM...HAI RAM atau HARE RAM.......HARE RAM.

               Patung batu hitam kesayangan NABI IBRAHIM yang terletak di kuil KA'ABAH oleh para pengikut Nabi Ibrahim kemudian disebut HAJAR ASWAD atau HAJAR ASWAT.  

              Kata ASWAD dibelakang kata HAJAR mengingatkan pada  ASWAT nama panggilan pendek  ASWATAMA,  anak Pendeta Dronacarya, seorang Brahmana ahli strategi perang, yang menjadi guru Pandawa dan Korawa, yang pergi meninggalan kelompoknya di negeri Barata.  Kesaktian perang ASAWATAMA  dilucuti oleh Sri Krisna dan mau dibakar dengan senjata Brahmastra oleh Arjuna. Atas perlindungan dan jaminan MahaResi Wiyasa,  Aswatama kemudian di ampuni dan pergi meninggalkan Hastina pura menuju ke arah barat.

IBRAHIM/BRAHM/BRAHMIN adalah Seorang dari Keturunan KURURESI= KURARISHI= KURAISI=QURAISI, pergi meninggalkan negerinya yang terkoyak perang saudara, kemudian terdampar dinegeri Timur tengah . IBRAHIM meninggalkan kelompoknya karena beliau MAU DIBAKAR.

             Selama dalam pengembaraan, banyak cobaan hidup yang dialami oleh IBRAHIM di negeri  yang masih asing baginya. IBRAHIM merupakan orang asing bagi rakyat Timur tengah sat itu, mereka menyebut IBRAHIM, sebagai Orang KAURAN=MUHAJIRIN=Orang yang meninggalkan Negerinya, Kata KAURAN mirip kan dengan KAURAWA ?. Bahasa yang dipergunakan oleh IBRAHIM disebut bahasa HEBREW, yang artinya bahasa seberang/asing. 

Kata KAURAN diatas mengingatkan kita pada KAURAWA, keturunan Bangsa KURU yang berperang melawan PANDAWA di KURUSETRA. Pengikut Nabi IBRAHIM 318 Orang, mendekati angka 3138, Saat Parikesit di angkat jadi Raja Hastina Pura, serta Para Pandawa dan Korawa yang masih hidup pergi  meninggalkan  Hastinapura untuk melakukan PENEBUSAN DOSA, sehabis perang.

             Di Mesir  timur tengah, yang menjadi Raja (FIRAUN)  saat itu adalah AMBIMELEKH,  Demi untuk mempertahankan Hidup Ibrahim mengalami banyak sekali cobaan di tanah Mesir.

              IBRAHIM=BRAHMIN=ABRAHM dari keturunan KURURESI akhirnya menetap di MEKKAH dan mendirikan kuil KABAH. Kuil Kabah dipelihara secara turun temurun oleh keturunan IBRAHIM dan di Kuil Kabah dilaksanakan tata keagamaan dan adat istiadat leluhurnya yaitu tatacara ibadat agama Weda.

 Sewaktu Muhamad lahir, orang tuanya langsung membawanya ke KUIL KABAH  untuk meminta berkat kepada Hyang Maha Kuasa.  Setelah Muhamad  besar ,  sebelum menjadi Nabi Muhamad juga terbiasa melaksanakan kebiasaan nenek moyangnya seperti misalnya : suka bermeditasi= Bersemedi =  Bertapa = bertahanut=bertafakur di GOA HIRA.  Sampai suatu saat Muhamad katanya mendapat Wahyu.

             Kebiasaan yang dilakukan Muhamad, adalah kebiasaan yang umum dilakukan oleh Bangsa Kuru maupun suku bangsa lainnya di Baratawarsa, seperti misalnya; Sidarta Gautama, putra mahkota Raja Sudhodana di Kapilawastu (sekarang masuk wilayah negara Nepal );  Suka bermeditasi= bersemedi= bertapa= bertahanut= bertahajut=bertafakur di bawah pohon Bodi dan medapat pencerahan menjadi  seorang Budha,  yang oleh pengikutnya ajaran-ajaran Sidarta Gautama disebut Agama Budha.

             Zarathustra dari suku Spitama, anak dari Porushap Spitama, Namanya  mirip  dengan nama Porosuttama  atau Purusa Utama, yaitu hakekat Tuhan Yang Maha Esa, Nama Puruottama juga merupakan julukan untuk Sri Kresna . Zarathustra menyebut dirinya putra Porushap Spitama  dan Ibunya bernama Dughdova (= Durgadewa ).  Zarathustra suka berkelana dan bertapa = bersemedi= bermeditasi= bertahanut = bertafakur di sebuah  Goa di Gurun Sahara, sampai  suatu saat Zarathustra mendapat pencerahan kemudian pengikutnya mendirikan agama Zoroaster (Majusi) .
            
  7 ( tujuh ) orang maharesi  jaman dahulu kala juga suka bersemedi= bertapa= bertahanut= bertahajut =  bertapakur  di lereng-lereng pengunungan Himalaya dan lembah-lembah sungai Gangga,  ketujuh Maharesi tersebut  mendapat Wahyu, tetapi mereka masing-masing tidak menciptakan agama baru,  wahyu-wahyu  yang mereka terima dikumpulkan oleh Maharesi Wiyasa  dan di kodifikasi   menjadi kitab Weda.

Kemungkinan besar  kota MINA adalah kota pelabuhan IKAN di jaman dahulu kala, menilik dari namanya MINA=MINHA=IKAN.  Sedangkan Gurun Sahara dulunya adalah laut yang mengering, menilik namanya SAHARA=SAGARA=LAUT.

SAGARA DI Timur tengah mengering, akibat TSUNAMI yang mengakibatkan BANJIR BESAR/AIR BAH  yang melanda wilayah itu zaman dahulu kala. AIR  SAGARA Meluap kedaratan mengakibatkan banjir besar dimana-mana. Peristiwa Tsunami/Air Bah/Banjir besar  yang sempat menenggelamkan sebagian wilayah ini dicatat di dalam BIBLE, AL QUR’AN Maupun WEDA.

Di dalam kitab Satapatha Brahmana dikisahkan :
  
“ Pagi hari Manu (leluhur umat manusia) ketika sedang mandi dihampiri oleh seekor Ikan, yang merupakan  Avatara Wisnu dan berkata :  “Peliharalah aku, aku akan menyelamatkanmu!, ‘Dari apa engkau menyelamatkan ku ?’, Banjir akan memusnahkan semua mahluk: dari itulah aku akan menyelamatkan mu!, Bagaimana cara aku memeliharamu ?,
Ikan tersebut memberikan petunjuk kepada Manu cara memelihara dia. “ Lalu ikan itu berkata, nanti  akan ada banjir. Pada waktu itu engkau akan mengindahkan nasehatku, dengan mempersiapkan sebuah kapal besar; dan apabila banjir telah naik engkau harus masuk kedalam kapal itu dan aku akan menyelamatkan engkau dari banjir itu.”
Manu mengikuti petunjuk ikan tersebut, dan selama banjir sang ikan yang merupakan REINGKARNASI WISNU (MATSYA AWATARA),  menarik kapal itu ke gunung disebelah utara. Kemudian ia Berkata, “Aku telah menyelamatkanmu. Tambatkan kapal itu ke sebuah pohon; tetapi jangan sampai air menghanyutkanmu pada waktu engkau ada diatas gunung. Seraya airnya surut, engkau boleh turun  perlahan-lahan.

             Akibat Air SAGARA=LAUT ini tumpah  kedaratan,  sampai mengeringkan lautan tersebut menjadi Padang Pasir, makanya daerah itu disebut GURUN SAHARA, berasal dari kata SAGARA yang berarti Laut.

            Wilayah timur tengah yang meliputi SAHARA, MINA, MEKAH, PADANG ARAVAH merupakan bagian dari BARATAWARSA di jaman MAHABARATA. Bahkan disebutkan pula wilayah Yowana ikut berpartisipasi dalam perang Bharatayuda.  Yowana itu meliputi wilayah Yunani sekarang.

            Terbukti bahwa tradisi Weda telah banyak melahirkan Nabi-Nabi dan telah banyak  membawa umat manusia mencapai  Sorga, bahkan mencapai Moksa,  yaitu dengan melaksanakan kebiasaan-kebiasaan seperti yang diperintahkan dalam Weda yaitu bersemedi= bermeditasi= bertafakur= bertahanut = bertapa,  untuk memusatkan hati dan pikiran kepada Hyang Maha Kuasa.
       
         “DENGAN TEGUH DUDUK DITEMPAT YANG BERSIH, TIDAK TINGGI DAN JUGA TIDAK RENDAH, DIALASI RUMPUT KUSA(alang-alang)  DITUTUPI KULIT RUSA DAN KAIN. DISANA DENGAN MEMUSATKAN PIKIRAN KESATU ARAH, MENYATUPADUKAN HATI DAN PANCA INRIA,  BERSILA DIATAS TEMPAT DUDUKNYA MELAKSANAKAN YOGA, MENYUCIKAN JIWA.  DENGAN BADAN, KEPALA DAN LEHER TEGAK, DUDUK DIAM TIADA BERGERAK-GERAK, TETAP MEMANDANG KEUJUNGA HIDUNGNYA DAN TANPA MENOLEH-NOLEH SEKITARNYA” (BG.VI.11-13).

“MENCARI TEMPAT YANG SUNYI, MAKAN SEDIKIT, MENGENDALIKAN PERKATAAN, BADAN JASMANI DAN PIKIRAN, SELALU MELAKUKAN YOGA SAMADI DENGAN  PIKIRAN DIPUSATKAN KEPADA HYANG MAHA KUASA DIANTARA DUA KENING” (BG.XVIII.52)

            Tetapi sejalan dengan berjalannya waktu, mereka para pengikut agama-agama para Nabi diatas, menghujat agama leluhur-leluhur mereka sebagai ; AGAMA PENYEMBAH BERHALA, KAUM  PAGAN, AGAMA POLITHEIS , TERDIRI DARI KASTA-KASTA dan  sebagainya, tanpa diberi kesempatan oleh pemimpin agamanya untuk membaca secara langsung KITAB WEDA atau paling tidak BAGAWAD GITA.  Alasan yang sering dikemukakan adalah ;   bisa terpengaruh, sehingga meninggalkan ajaran Nabinya. Aneeeh...neh.......neh....................Kenapa takut......?????????????

            Atau benarkah yang datang menemui Muhamad maupun Zarathustra itu mahluk langit utusan  Tuhan, Kalau utusan Tuhan kenapa menakutkan ?, dan menawarkan kemuliaan duniawi seperti Harta, Wanita dan tahta ?, tidak mengajak umatnya untuk meninggalkan hal-hal duniawi serta  mencari moksa ?,  Seperti yang diterima oleh ke 7 Maharesi di Pengunungan Himalaya Hindustan?.

             Kenapa hal-hal yang di Weda diasosiasikan dengan kejahatan/kegelapan/kaum raksasa  seperti misalnya  Asura= Asyura=Ahura justru di agama Nabi dianggap pahlawan atau kebajikan/kecemerlangan.

             Apa yang dilarang dalam Weda, seperti merendahkan wanita  dari kaum apapun, budak atau tawanan,  dan menghina  Musuh yang sudah kalah atau yang sudah menyerah, Justru dalam agama Nabi diberikan keleluasaan untuk memperbudak dan memperkosa kaum wanita tawanan nya dan merampas harta bendanya, apalagi yang disebutnya kaum kafir ?,

Berikut ini seloka Bagaawad Gita yang melarang merendahkan Wanita :

“BILA ADHARMA BERKECAMUK, WANITA-WANITA JADI TIDAK SUCI, DAN BILA WANITA-WANITA SUDAH TIDAK SUCI LAGI AKAN TERJADI KETIDAK TENTUAN TENTANG SILSILAH ASAL-USUL KELUARGA” (BG. I.41).

“KERUNTUHAN MORAL INI MEMBAWA KELUARGA DAN PARA PELAKUNYA KE NERAKA, ARWAH NENEK MOYANGNYA JATUH KE NERAKA, SEMUA TERPANA, AIR DAN NASI TIDAK ADA LAGI ARTINYA” (BG.I.42)

Shri Manu berkata  4/134: Jiwa-jiwa yang tercerahkan menikmati hidup dengan kebahagiaan tertinggi, dimana wanita di hormati”

Jadi  Mungkinkah ABRAHM itu Adalah ASWATAMA ?, Seorang Kesatriya penunggang kuda yang meninggalkan Negerinya karena kalah Perang?. Meskipun beliau seorang Ksatriya ayah Aswatama adalah seorang Brahmana, yaitu Pendeta Dronacarya.  Setelah berhasil membunuh kelima anak Drupadi, Aswatama dikejar oleh Pihak Pandawa, Kesaktiannya (senjata andalanya) di lucuti, tetapi berkatnya untuk hidup 300 tahun dibiarkan tetap oleh Sri Krisna,  Atas perlindungan dan jaminan  MAHARSI WIYASA,  ASAWATAMA di ampuni dan pergi meninggalkan Hastina ke arah Barat. 

Ditempat pengasingannya ASWATAMA melakukan penebusan dosa dengan menjadi PERTAPA  dan mendirikan kuil pemujaan di tengah Gurun yang disebut Kuil KAWAH atau KAVAH untuk mengingatkan adanya KAWAH CANDRADIMUKA di GURUN PADANG PAGANGSARAN di Langit ditengah lintasa jalan ke Sorga 




Daftar bacaan


 http://dir.groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/message/14791 


ARTIKEL LAIN

30 komentar:

Anonim mengatakan...

he...he..he asyk juga, pengetahuan baru neh.

Anonim mengatakan...

assalamualaikum,,,,
seandainya benar ibrahim itu adalah brahmana maka yg lebih pantas adalah semua orang hindu itu masuk islam....karena penjaga paling murni terhadap ajaran ibrahim adalah agama islam,,,,
tolong baca lagi dengan benar kitab weda anda.....adakah yg menyuruh menyembah patung2.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Tentang penyembahan patung bagi umat Hindu ada seloka mengatakan sbb:

Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati, tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham
(Bhagavad Gītā, VII.21)

Arti:

Apapun bentuk yang ingin diwujudkan oleh seorang penyembah,dengan kecintaan untuk memuja-Ku, dengan keyakinan yang mantap, sesungguhnya Aku sendiri yang mengajarnya.

Berpegang teguh kepada kepercayaan itu, mereka berbakti pada kepercayaan itu dan dari padanya memperoleh harapan mereka, yang sebebarnya hanya dikabulkan oleh-Ku (BG.VII.22)

Akan tetapi akhirnya yg didapat mereka, orang-orang yang berpikiran picik, adalah yang menyembah Dewa akan pergi kepada Dewa-Dewa, tetapi para pengikutku akan sampai kepada-Ku (BG.VII.23)

Jadi dalam agama Hindu ada 2 cara yaiyu :
1. Dengan meditasi tanpa sarana patung atau gambar yang biasanya dipergunakan bagi para Yogi tingkat tinggi

2. Dengan bantuan gambar atau arca/patung untuk memusatkan konsentrasi bagi para pemuja yang pikirannya masih ke mana-mana. dengan sarana arca/patung atau gambar bisa memusatkan pikiran/konsentrasi ke satu titik dan itu tidakdilarang, asal dimaksudkan untuk memuja Tuhan YME, bukan yang lain.


Anonim mengatakan...

Islam dibentuk oleh Nabi Muhamad SAW, Ibrahim lahir jauh sebelum Nabi Muhamad SAW. Kepercayaan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim masih sama dengan kepercayaan Weda, tetapi sejak pengikut Nabi Muhamad SAW membentuk agama Islam, banyak yang menghujat kebiasaan leluhur-leluhurnya orang Quraisy sebagai agama kaum pagan, penyembah berhala dsb, mereka lupa Nabi Muhamad konon mendapat wahyu dengan cara bermeditasi/bertahanut di Goa Hira.

Oleh pengikut Nabi Muhamad, banyak ajaran para Brahmana yg disimpangkan misalnya : oleh pengikut Nabi Muhamad dikatakan, bumi dihamparkan, matahari beredar padahal para brahmana zaman dahulu kala didalam weda telah mengetahui bahwa bumi ini bulat melayang dilangit, dan bumi berputar disekitar matahari.

Baca selengkapnya di :

http://dharmagupta.blogspot.com/2012/02/agama-bumi-dan-agama-langit.html

halim sadeli mengatakan...

Ngawur dan seenaknya berspekulasi.. Allah berfirman, jangan engkau membuat sesuatu apa pun yang mirip di daratan, udara dan dilaut.. Kenapa saat menyembah Allah mereka menciptakan bentuk yang berbeda seenak pikiran mereka(penyembah berhala). Allah itu tak bisa digambarkan dalam bentuk apapun.

Guli Mudiarcana mengatakan...

Dalam pandangan agama Hindu tuhan disebut juga Acintya artinya tidak berbentuk atau tidak berujud. disebut juga Nirwikala artinya tidak kelihatan. Tetapi Hyang Widdhi/Tuhan sangat maha Pengasih, maha kuasa shg bisa memberikan kemaha pengasihannaya tersebut utk cara mendekati Tuhan diantaranya yaitu dg tanpa sarana apapun dan citra apapun dan bisa juga dg bantuan imajinasi (gambar/patung/arca) seperti disebutkan dalam Bhagawad Gita VII.22)

Anonim mengatakan...

ma'af jika anda mengatakan bahwa hyang widhi/tuhan yang pengasih itu, bisa diserupakan dengan sesuatu{berbentuk material},maka tuhan anda mempunyai keterbatasan yang patal, diantaranya keterbatasan tempat, rupa/bentuk dsb,,,,misalnya jika anda meyerupakan tuhan tsbt, berbentuk patung sapi,anjing bahkan manusia sekali pun,berarti tuhan itu menyerupai kesamaan rupa dgn patung2 tsbt,,begitu juga sebaliknya dengan keterbatasan tempat,tuhan anda yang ada disana belum tentu ada disini.
begitu juga, ngapain tuhan anda menyuruh lho pke2 perantara segala,bkannya lebih mudah kalau kamu ngadu langsung kepadannya,ndak capek2 buat patung segala.??
kasihan sekali sih tuhan itu mau dilecehkan, oleh ciptaannya sendiri......huhuhuhu

Anonim mengatakan...

baca kitabnya dengan teliti,jangan sekedar pkek keyakinan anda yang salah..gali juga dengan akal anda, apakah menentang atau tidak...
karena kebenaran itu terbukti dengan, tidak adanya kontradiksi dengan akal.....thankks

Anonim mengatakan...

Tujuan tertinggi pemujaan kpd Tuhan menurut Weda adalah moksa yaitu terlepasnya atman dari perputaran kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali ke dunia material ini, atau terbebasnya dari reinkarnasi (samsara). Pembebasan ini itu hanya dapat dicapai bila seseorang telah berhasil pulang ke dunia rohani, memasuki kerajaan tuhan.

Syarat untuk mencapai kepada Tuhan adalah, kita harus mencintai Tuhan. Pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” juga berlaku dlm hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa mencintai beliau, kalau kita tidak pernah kenal beliau? Kalau ternyata Tuhan tidak berwujud, tidak memiliki sifat, tidak terdeskripsikan dan lain-lain? Bagaimana kita bisa “memberi” sesuatu kepada Tuhan, kalau mata kita tidak bisa melihat-Nya? Msutahil, karena berbagai alasan, pertama karena keterbatasan panca indera kita. Tuhan mungkin sudah hadir di depan mata kita, tapi mata kita tidak mampu melihatnya. Telinga tidak mampu mendengar bisikan tuhan yang lembut, yg mungkin sudah dekat telinga kita. Itu karena frekuensi yang berbeda. Dalam atmosfir di sekitar kita berseliweran beribu-ribu gelombang cahaya, suara, listrik dsb. Toh mata dan telinga kita tidak bisa menangkapnya. Seandainya mata dan telinga sangat peka, tentu kita tidak butuh telepon, TV atau radio. Dengan segala keterbatasan itu, bagaimana kita bisa melihat dan mencintai Tuhan? Padahal kalu mau jujur kita tidak pernah bisa bersembahyang pada kekosongan. Saat berdoa, sembahyang atau melakukan pemujaan, pastilah pikiran kita membayangkan suatu figur, sosok, bentuk, wujud, konsep atau gambaran tertentu yang dijadikan obyek pemusatan pikiran. Namun para maharesi atau orang suci yang telah mencapai tingkat keinsafan diri tertinggi, mampu secara langsung melihat wujud dan sifat tuhan.

Arca atau murti dibuat dari bahan kayu, batu, logam, tanah liat, cat dan sebagainya. Ada kitab Weda khusus bernama silpa sastra, yang berisi panduan lengkap bagaimana orang membentuk arca atau murti Tuhan. Ada upacara dan mantram tertentu yang harus dilakukan untuk “mengundang” Tuhan agar berkenan “bersemayam” dalam murti atau arca yang dipuja. Tuhan maha hebat, Beliau mampu mengubah sesuatu yang bersifat material menjadi bersifat spiritual. Apa sulitnya bagi Tuhan untuk “masuk” kedalam arca atau murti, untuk menrima bhakti dan persembahan dari pemuja-Nya yg berbakti dengan hati dan keinginan yang tulus? Bukankah batu, kayu, logam atau bahan lainnya semua adlah ciptaan Tuhan sendiri? Apakah kita akan disebut menghina dan menyekutukan Tuhan, kalau kita manfaatkan benda-benda ciptaan Tuhan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepada-Nya? Kalau kemudian ada yang bertanya : “Tuhan ada dimana-mana. Apakah itu berarti Tuhan juga ada di dalam arca? Mampukah Tuhan masuk, berada dan bersemayam dalam arca yang dipuja umat Hindu itu?

Biasanya ada yang menjawab : “Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tuhan Maha Suci, Tidak mungkin Tuhan berada dalam benda-benda ciptaan manusia!”

Kalau begitu, bisakah kita menyimpulkan “oh, jadi Tuhan kalah dengan manusia? Manusia lebih hebat dari Tuhan, karena mampu menciptakan sesuatu yang membuat Tuhan tidak mampu memasukinya? Tidak berdaya menghadapi benda-benda ciptaan manusia! Bukankah itu berarti Tuhan juga tidak mampu berada dalam masjid, gereja, pura dan wihara? Bukankah semua ‘tempat suci’ buatan manusia? Lalu apa gunanya kita sembahyang di pura, masjid, gereja atau wihara kalau toh Tuhan tidak bisa berada di dalamnya?

Dalam konsep Hindu, Tuhan bersifat transenden, sekaligus imanen. Artinya, selain berada di tempat tinggal rohani-Nya, Tuhan juga sekaligus berada dalam benda-benda ciptaan-Nya Tuhan dilihat dan dihayati dalam segala sesuatu. Pertimbangan-prtimbangan demikian yang melandasi konsep pemujaan arca atau murti yang dijelaskan dalam kitab-kitab Weda.

Anonim mengatakan...

Hyang Widdhi/tuhan agama Hindu tidak berbentuk, tidak berujud, bukan laki atau perempuan diistilahkan sebagai : Wiapi wiapaka nirwikala, ardanareswari. Patung/arca bukan tuhan, patung hanya ekpresi kecintaan umat kepada beliau.

manungso jowo mengatakan...

Tulisan ngawur...sebelum Muhammad saw lahir pun para nabi terdahulu sudah mengetahui jika kelak akan ada Rosull penyempurna ajaran mereka! Aku yakin Ibrahim as itu mengajarkan ajaran ketauhidan(satu Tuhan)dan beberapa lamanya menjadi hindu karena dibawa orang india dan budha karna dibawa orang china.menurut saya ibrahim as itu bukan dari india tapi dari nusantara.terbukti beberapa suku di nusantara sudah mengenal Sang Maha tunggal,monotois sebelum bangsa hindia datang.silahkan baca babad tanah jawa(sebelum jaman es berakhir negri kita bernama sundaland,orang2 arab menyebut masyarakatnya bernama bani jawi.).bagi umat muslim pasti tau tahun gajah,raja abrahah penunggang gajah yang akan menghancurkan ka'bah dan pasukanya?mereka tau kalau Muhammad saw akan lahir jadi mereka berusaha memusnahkan ka'bah.nah bro pertanyaan saya di timur tengah,amerika,eropa emang ada gajah??ga ada!ya dari asia si raja abrahah itu(dari kata abrahah berarti pengikut ibrahim)mereka tidak rela agamanya terganti tapi perlu digaris bawahi,hanya sebagian kecil yang tidak terima.kesimpulanya memang benar Ibrahim as adalah orang asia.atau tepatnya dari nusantara.

Anonim mengatakan...

terima kasih buat pak guli mudiarcana, atas pembahasanya.
top abizz buat bapak
mudah2an yang mendengar banyak mendapat pengetahuan.

vedanta bhaktan.

Anonim mengatakan...

Semua umat beragama percaya Tuhan baik. Konsep siksa neraka abadi bagi yg bukan agamaNya walaupun ia selalu berbuat baik, sangat bertentangan dgn hati nurani saya. Juga superior kaum laki kpd. Perempuan hingga boleh kawin lagi, cara berpakaian kaum wanita, beda kucing dgn anjing (karena anjing najis). Nurani saya apapun alasannya, mengatakan sangat menyebalkan dogma itu. Saya coba pelajari satu agama lain yg bsr jg. Sama sj ternyata tuhannya jg akan siksa orang di neraka abadi bila tak mempercayaiNya. Cape deh... Akhirnya sy berkesimpulan agama itu bullshit. Tapi tetap ada keinginan utk bisa dkt dgn Tuhan, tapi yang sejalan dgn nurani akal budi saya. Tulisan anda ada sedikit terbuka hati saya. Saya senang sekali.

Anonim mengatakan...

pak,tolong punya toleransi dengan umat agama lain jika tulisan anda bisa dbaca oleh umum..lagipula tulisan anda hanya merujuk k satu agama lain,yaitu islam..knapa agama yg lain tidak skalian dsangkutkan dengan pendapat anda???apakah hanya untuk mjelek-jelekan 1agama padahal itu hanya mjelekkan agama anda krn tliat bgt anda tidak toleran dgn umat agama yg lain n mnimbulkan ktidaknyamanan..apakah agama anda hanya brisi mjelekkan agama lain???tolong drenungkan sblm mnulis hal2 macam ini

Anonim mengatakan...

Dari tulisan kita tahu..umat mana yang bahasanya kasar dan lembut... hehehe... agama kok mengajarkan kekerasan.. emg preman apa... kuukss

Anonim mengatakan...

Cie cie orang yang ketahuan salah pasti malu, orang malu pasti menentang, orang menentang pasti menghindar, kalo gk bisa mengindar so pasti marah... cie cie malu banget ya.. cie cie malu maluin ahayyy cie yg cuma bisa ikut ikutan.... yg ngakunya original tapi ternyata barang tiruan hahay

Anonim mengatakan...

Cerita cocoklogi. "karena kebiasaan orang arab mengeja atau membaca dari belakang, maka BRAHMIN di ucapkan IBRAHIM" kalau membacanya dari belakang pengucapan/tulisannya menjadi NIMHARB BUKAN IBRAHIM, kata Aswad diubah Aswat, padang Arafah menjadi padang Aravah, lagi-lagi cocoklogi. Maaf Anda bukan ahli linguistik. Cerita khayalan belaka seperti sinetron saja. Semoga yang punya blog mendapatkan hidayah-Nya, Aamiin.

agung wicaksono mengatakan...

Jgn nyalakan agama salah kan orang orangnya..
Rumah anda kotor yang disalahkan pastinya orangnya bukan rumahnya..
Agama adalah konsep kepercayaan kita terhadap tuhan..
Jangan jadi kan ini untuk membikin konspirasi politik..
Tuhan itu satu yaitu Allah dia suci tak berbentuk apa pun..
Bahkan di al-quran sudah tertulis jelas bagaimana bumi dan langit bisa tercipta..
Banyak dikejadian di al-quran menjadi kenyataan..
Carilah tuhan anda..jangan jadi orang mls belajarlah dari buku agama yang lain disitulah kita akan bertemu dgn tuhan kita..
Assalamualaikum

gugus wijiyanto mengatakan...

Ilmu matuk dalam bahasa jawa....semua dihubung2kan dan disama2kan hanya dengan pembenaran diri sendiri, semua di pas2kan dan terkesan dipaksakan sesua pendapat anda sendiri tanpa ada penelitian yang ilmiah. He tapi ngga papa buwat bacaan lumayan ....salam bhineka tunggal ika

Anonim mengatakan...

NGAPAIN RIBUT SOAL AGAMA, YANG PENTING TUHAN ADA SATU,MAHA ADIL,MAHA TAU, PENGASIH DAN PENYAYANG, APAPUN AGAMA KITA, APAPUN KEYAKINAN KITA TETAPLAH TEGUH PADA KEBENARAN, TIDAK ADA GUNANYA KITA SALING MENGHUJAT, TIDAK ADA YANG MAMPU MENTERJEMAHKAN TUHAN KRENA KETERBATASAN KITA,. BIARLAH TUHAN YG MEMUTUSKAN KARENA TUHAN MAHA BIJAKSANA..
SAYA YAKIN TUHAN MENANGIS KALO ANAK2 NYA SEMUA BERTENGKAR KARENA EGO DAN KETERBATASAN NYA..

Bambung Antasena mengatakan...

Ulasannya menarik tapi sayangnya cuma mengacu pada satu agama/kitab.
Salam ngawur gannn

Anonim mengatakan...

Imajinasinya menarik pak,
Tulisannya tapi sangat lemah, tidak afa bukti konkret yang tercantum, lagipula ibrahim sendiri memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai pematung, bukan guru olah kanuragan seperti begawan durna, dikaji ulang lagi pengetahuannya. Tulisan bapak seperti tulisan anak smp yang keakuratannya dipertanyakan

ara neta mengatakan...

Aswatama bkn abraham, krn aswatama di kutuk sri khrisna mandul, sedang abrham punya anak didalm pelariannya... mungkin abraham adalah org hindu timur, bisa saja.... tpi arti tambahan abraham itu dh jelas bukan golongan brahmana. Itu sebabnya kalau mwrujuk pada alkitab kristen, abraham hijrah mengikuti perintah Tuhan karna lingkungan yg tidak tuhan harapkan.

ara neta mengatakan...

Aswatama bkn abraham, krn aswatama di kutuk sri khrisna mandul, sedang abrham punya anak didalm pelariannya... mungkin abraham adalah org hindu timur, bisa saja.... tpi arti tambahan abraham itu dh jelas bukan golongan brahmana. Itu sebabnya kalau mwrujuk pada alkitab kristen, abraham hijrah mengikuti perintah Tuhan karna lingkungan yg tidak tuhan harapkan.

News Bisnis Information mengatakan...

Artikel Yang Menarik, Salut Buat Penulis, Satu Hal Ketika Kebenaran Coba Diungkap, Banyak Yang Akan Menolak Kebenaran itu, Karena kebenaran itu begitu menyakitkan untuk diterima. Di sisi Lain ketika kepalsuan dan kebohongan semakin ditumpuk, pasti akan ada saatnya akan mencapai titik untuk proses kemurnian kembali. Bersyukurlah bagi mereka yang telah berada dalam kesadaran akan kebenaran yang sejati, jauh dari kepalsuan.

kadek busana mengatakan...

Postingan yang bagus, analisanya juga masuk akal, ulasan yang seperti ini juga pernah saya dengar dari seorang pendarmawacana, makasi untuk informasinya

Master Dewa mengatakan...

Om Svastiastu
Perkenalkan saya Dewa Suryaningrat saya beragama Hindu.
Saya tahu bahwa sodara-sodara dalam diskusi ini,adalah orang yang baik.Jika tidak,mana mungkin mampu berdikusi sekritis ini tentang Teologi.Sekilas tentang Hindu : Hindu merupakan Ajaran Agama yg tertua di dunia ini.di dalam pengajaran Hindu Dharma,secara intelektual para umat di kala itu tdk lah sama.Pada zaman tsb yg mampu memahami terlebih menguasai Veda adalah para "Brahmin" dan bebrapa "Ksatrya wangsa".dikarenakan oleh tdk semua orang mampu menganalisis isi dari firman suci Veda,di dalam pengajaran "Brahma-Vidya"(teologi) para brahmin sering menggunakan penggambaran dengan metode personifikasi.Contoh : Tuhan merupakan pengetahu segala,tidak ada satu aspek pun yg lalai dari pindaiannya.Dipersonifikasikanlah Tuhan dlm sosok berwajah 4 yaitu Dewa Brahma.menghadap ke segala arah atau aspek(Timur,Barat,Selatan dan utara).Ia pun adalah awal dari semuanya digambarkan lah dewa Brahma berwajah tua.Tuhan maha pemimpin,pelindung,maha kuasa maha peduli dan pengabul semua harapan yg baik dari hambanya.digambarkanlah Tuhan sbg sosok Vishnu yg tampan perkasa dg penampilan Prabhu(kaisar) yg bermahkota memegang Sudarsana Chakra(Maha pemimpin),Gada(maha pelindung),Bunga Lotus(Maha Pengabul) dan memegang Shangka-kala(simbol suara/firman suci).Kemudian pula Tuhan adalah pengantar kita menuju "Nirvana"(suatu pencapaian kebebasan nondualistik) yg disebut "moksha",sehingga dipersobifikasikanlah Tuhan sebagai Siva yang Berpenampilan sbg "tapasvi"(petapa) yg notabena telah meninggalkan keterikatan dualistik.Dimana hanya memegang 1 piranti yaitu Tri Sula yg melambangkan Kebijaksanaan,Kesucian dan Moralitas.Digambarkan juga "tri netra" mata ke-3 sbg lambang terbukanya mata kebenaran(bukan visual duniawi).Jadi di dalam Hindu Dharma ada salah satu metode pengajaran yg personifikatif untuk memudahkan kaum2 yg memiliki intelektual kurang cerdas(saat itu adalah kaum Vesya dan Shudra) dalam hal pehaman dan penerapan ajaran Veda(baca Weda) di Hindu.
Krn zaman veda merupakan peradaban Dunia yg pertama,sehingga tidak semua orang memiliki kecerdasan intelektual yg mumpuni.Diterapkan lah metode pengajaran tsb oleh kaum Brahmana dan Dharmaduta .

Master Dewa mengatakan...

Untuk kritisnya Intelektualitas Dokter sbg blogger saya sangat acungkan jempol.Ini adalah tulisan yg konstruktif dan bukan provokatif bagi oknum-oknum yang kurang paham dalam memahami Veda dan Hindu dan saya percaya kaum Vedantin(cendikiawan Veda) sangat kritis dalam menganalisis pengetahuan kehinduan.Sehingga memilik fondasi yg referensif dalam mewartakan Veda lebih luas dan mendalam,khususnya bagi oknum-oknum yg masih sangat konservatif dalam memandang kemurnian kebenaran Tuhan (Sanathana Dharma) dalam perspektif Hindu.
Luar biasa dokter !
Jika dokter berkenan,dengan segala kerendahhatian saya mengundang dokter dalam membangun pertemanan religius melaui email saya :masterdewa.tarot@gmail.com(email publik saya).Untuk email pribadi saya,akan saya beritahukan ketika komunikasi kita sdh berjalan lebih konstruktif lagi.tetap berjuang mengembangkan Sanathana Dharma dan
Terimakasih
SATYAMEVA JAYATE !
OM SHANTI.SHANTI.SHANTI.OM

Anonim mengatakan...

kelihatan gobloge

Dion mengatakan...

Ini yg menurut saya sangat bagus semua orang perlu tau dan membacanya!