Laman

Minggu, 01 April 2012

Empat Kasta tidak sama dengan Catur Warna. Catur Warna adalah Empat Tipologi Kepribadian Manusia.

Oleh : Dr. ING. Mudiarcana


Empat kasta tidak sama dengan Catur Warna. Kasta merupakan statifikasi sosial yang sangat kaku berdasarkan atas keturunan, Sedangkan Catur Warna didasarkan pada interaksi dinamis triguna karma. Seperti disebutkan dalam Bhagawad Gita IV.13 : Chatur Varnyam maya srishtam guna karma vibhagasah, artinya, catur warna adalah ciptaanku bardasarkan guna karma yang melekat padanya.

Triguna sebagai dasar pembentukan Catur Warna terdiri atas :  Satwam, Rajas, Tamas. Bagawad Gita XIV.5 menyebutkan:Sattwam Rajas Tamas iti Guna Prakritisamdhawah  artinya : Satwan rajas tamas terlahir dari prakirti.

Sedangkan Bagawad Gita.XIV.6-8 menyebutkan  
Ciri-ciri Satwam : nirmalawat = sifat yang tdk tercela. prakasakam =  bercahaya,  anamayam = tidak mengenal sedih/menderita.  Sukhasangena = memberi rasa senang.   Jnanasangena = memberikan ilmu pengetahuan.  Anagha = tidak tercela.    

Ciri-ciri Rajas  diantaranya :Raga = nafsu, atmakam = sendiri, trsna = nafsu birahi, sanga = terikat, karmasangena = terikat oleh karma. dahinam = Jasad Rohani. 

Ciri-ciri Tamas diantaranya  :  Ajnanam= tidak berpengetahuan, Mohanam= kebingungan,  pramada=tidak peduli/hirau/masa bodo. Lasya= malas,  nibrabhis=ketiduran/malas,  nidra= tidur,

Satwam menghubungkan seseorang kedalam kebahagiaan, Rajas menghubungkan orang dalam perbuatan/karma, sedangkan Tamas menutup pengetahuan sehingga menjadi kurang waspada (BG.XIV.9)

Selanjutnya BG.XIV.11-13; menyebutkan  :  Satwam, Ilmu pengetahuannya menembus didalam badan melalui semua pintu;   Rajas : Lobham = Loba, giat dalam usaha,  prawrttir = Kegiatan kerja duniawi. Arambah = giat berusaha. Sprha = kemauan kuat;  Tamas : Aprakaso = kekurangan cerah/tdk bersinar, Aprawrtti = malas.  Pramada = tidak peduli/teledor.   Moha = bingung,  nidralasya = suka tidur, mohanam atmanam = kesesatan jiwa.

Catur Warna dalam Agama Hindu sangat terbuka. BG.XVIII.41.menyebutkan : Brahmana ksatrya wisam sudranam ca parantapa, karmani prawibhaktani swabhwaprabhawir gunah. Artinya; Brahmana Ksatrya Wesya dan Sudra perilakunya dibentuk oleh sifat bawaan guna (triguna). 

Perbedaan Warna seseorang terjadi karena interaksi secara dinamis  antara triguna dan karma. Triguna terdiri dari :

Satwam ; merupakan gudang nilai-nilai moral,merupakan sensor bagi individu dalam menentukan salah atau benar, baik atau jahat, Sifat satwam memperhatikan prinsip-prinsip moral, merupakan  representasi dari norma umum dan kesusilaan.  

Rajas;  mewakili kenyatan fisik dan sosial seseorang.  berpungsi sebagai penyeimbang     antara Tamas dan Satwam.  

Tamas;  bisa disebut sebagai bagian struktur kepribadian primitif, tidak sadar, bekerja tidak rasional dan infulsif, merupakan dorongan kemauan insting.
             
Interaksi Triguna dan Karma ini membentuk pola-pola perilaku  Brahmana,  Ksatrya, Wesya dan Sudra (Bagawad Gita IV.13)

Pola perilaku yang ditunjukkan secara terus menerus oleh tiap-tiap individu menurut Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro disebut Kepribadian/ personality . Sedangkan menurut Salvador R Maddi, Kepribadian merupakan seperangkat karakteristik yang relatip mantap,kecenderungan dan perangai yang sebagian besar dibentuk oleh faktor keturunan dan faktor faktor sosial, kebudayaan dan lingkungan. Perangkat variabel ini menentukan persamaan dan perbedaan perilaku individu. 

Jadi Catur Warna bisa pula disebut  sebagai Empat Tipologi kepribadian menurut Ilmu Psikologi Hindu. Sangat mungkin Sigmund Freud membangun teori Psikodinamis Kepribadiannya setelah membaca Seloka-seloka Gita ini.  Sigmund Freud menerangkan perbedaan kepribadian individu karena tiap orang mengalami perangsangan pokok yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh pertentangan terus menerus antara dua bagian dari struktur kepribadiannya yang menurut istilah Freud disebut ;  Id, Ego dan super ego.

Kepribadian  (bhs Inggris Personality), tidak sama dengan sifat/watak (Bhs Inggris character ).  Kepribadian/personality bersifat menetap, konsisten sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Sedangkan Watak/character sifatnya sewaktu-waktu dapat berubah, misalnya besifat  atau berwatak keras kepala, pemarah dls. 

Seseorang baru bisa disebut  Brahmana kalau memperlihatkan ciri-ciri kebrahmanaannya seperti disebutkan dalam  Bagawad Gita XVIII.42  yaitu  : samo = khusuk/tenang, Damas = menguasai panca indra/mampu mengendalikan diri. tapah = mampu mengendalikan nafsu, saucam=suci. Arjawa = luhur budinya. Ksanti=damai/tenang, Jnanam = berpengetahuan. wijnanam = bijaksana/ berpengalaman. Astikyam = religius. 

Seseorang baru bisa disebut Ksatrya apabila memperlihatkan ciri-ciri seperti disebutkan dalam BG. XVIII.43 yaitu : sauryam=heroisme/pemberani. tejo=lincah. Dhritir=teguh .daksyam=pandai menyelesaikan tugas, yuddhe=siap bertempur .apalayamam=tidak pengecut. dana=dermawan. iswarabhawa=bersifat memimpin/berwibawa. 

Seseorang disebut Wesya apabila mempunyai ciri-cir : Krsi=pertanian. gauraksya=memelihara lembu/berternak. wanijyam=berdagang (BG.XVIII.44).  

Sedangkan seseorang disebut Sudra kalau mempunyai ciri-ciri : paricaryatmakam =  suka melayani      ( BG. XVIII.44

Seorang Brahmana bisa saja terlahir dari warna Sudra/pelayan, seperti Narada Muni dan Walmiki. Demikian juga Ksatrya bisa tumbuh dikalangan Sudra contohnya Bambang Ekalaya, Radeya, dan Ken Arok, Kebo Iwa,  maupun Damar Wulan.  Seorang Ksatrya bisa juga besar dikalangan peternak sapi ( Wesya )  contohnya  Sri Kresna.  Seorang Ksatrya bisa juga lahir dari kalangan yang tidak diketahui identitasnya/asal-usulnya, misalnya Mahapatih Gadjah Mada.  Seorang Kstrya bisa juga berasal dari Brahmana misalnya Kresna Kepakisan, Darmawangsa Teguh. Demikian juga Seorang Brahmana atau Ksatrya bisa pula mempunyai anak menjadi Sudra atau Wesya, tergantung bagaimana orang tua mendidiknya dan lingkungan yang mempengaruhinya. 

Yayur Weda XXX.5 menyebutkan :  Brahmane brahmanam, Ksatraya rajanam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram  artinya :  Brahmana untuk pengetahuan, Ksatrya untuk perlindungan, Waisya untuk perdagangan, dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Maksud dari mantra tersebut seorang yang mempunyai tipe kepribadian Brahmana sangat cocok untuk melakukan pekerjaan berkaitan dengan ilmu pengetahuan seperti guru/acarya, rohaniawan maupun pendeta. Sedangkan yang mempunyai tipe kepribadian Ksatriya, lebih cocok untuk berprofesi sebagai yang melindungi seperti; Prajurit/tentara, Raja-Raja, Bupati, Gubernur, Presiden. Sedang  mereka yang bertipe kepribadian Wesya lebih cocok kalau perkerja sebagai pedagang/businesman/pengusaha, Peternak atau petani . Sedangkan  mereka yang mempunyai tipe kepribadian Sudra lebih cocok berprofesi sebagai pegawai gajian seperti Pegawai Negeri/Swasta, atau sebagai buruh harian atau buruh borongan.

Dengan mengetahui tipe kepribadian seseorang sangat membantu untuk kemajuan dalam memilih profesi. Dengan demikian Agama Hindu sudah  sangat maju dalam bidang Ilmu Psikologi. Tentu profesi ini tidak menetap, tergantung proses belajar dan lingkungannya, dan minatnya. 

Tipe kepribadian yang menetap memberikan arahan kepada kita untuk menyadari potensi maupun kemampuan kita masing-masing, sehingga akan membawa kita ke arah kesuksesan.  Seorang  yang berbakat  sebagai pengusaha akan lebih sukses kalau menjadi pengusaha dari pada menjadi Tentara. Atau  seorang yang berbakat jadi Guru akan lebih sukses kalau dia menjadi guru, dibandingkan kalau menjadipengaacara. dls.
             
Lalu bagaimana menentukan tipe kepribadian seseorang ?.

Menurut  R.B.Cattell; ada 16 ciri  dasar yg  melandasi perbedaan perilaku individu.  Dalam  riset  yg dihasilkan dari pengembangan daftar pertanyaan 16 PF Cattell ( sixteen Personalities Factor ) digunakan untuk mengukur sejauhmana orang mempunyai ciri-ciri tersebut. Diantara ciri-ciri yang diindentifikasi oleh Cattell adalah  : pendiam-ramah tamah. praktis-imajinatif. santai-tegang. rendah hati-tegas. Ke 16 ciri Cattel tersebut bersifat 2 kutub, masing masing memiliki 2 ektrim  ( contoh santai-tegang).

Kitab Bagawad Gita dapat dipakai sebagai  referensi  Ilmu Psikologi modern untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian seseorang.  Kepribadian dapat diketahui dengan memakai ciri-ciri kepribadian ( Tait of personality ) mengacu pada sloka-sloka BG XIV.6-8  dan BG XIV. 11-13 dan BG. XVIII.42-44 diatas. Dengan mengacu sloka-sloka tersebut serta mengamati pola-perilaku yang ditunjukkan secara terus menerus oleh seseorang dapatlah kita menyimpulkan  seseorang mempunyai tipe kepribadian Brahmana, atau tipe  Kepribadian Ksatrya, tipe Kepribadian  Wesya ataupun tipe Kepribadian  Sudra.

Dengan menggunakan Ilmu Psikologi ini, dapat pula kita menilai apakah seorang Perwira Tentara layak disebt Ksatrya apa tidak. Seorang Pendeta layak disebut Brahmana apa tidak.   Bagaimana dengan Perwira yang kabur dari medan perang/ desersi, atau seorang Pendeta yang (maaf) membisniskan kependetaannya. Ataupun Pengusaha besar( Wesya) yang mendapatkan kekayaan dengan menjual produk yang dilarang oleh Agama maupun undang-undang. Atau seorang buruh tani yang berperilaku menarik, sopan santun, selalu membuat orang  lain senang, berpengetahuan Agama yang luas ?

Dengan demikian Catur Warna tidak tepat kalau diterjemahkan sebagai Empat kelompok masyarakat berdasarkan jenis pekerjaannya. Karena pekerjaan seseorang belum tentu sesuai dengan pola perilakunya. Catur Warna lebih cocok diartikan Empat tipe  kepribadian. 

Untuk mengetahui tipe kepribadian seseorang dapat menggunakan serangkaian tes dengan mengacu sloka-sloka Bagawad gita XIV.11-13 dan BG. XVIII.42-44. Dengan mengetahui tipe  Kepribadiannya, diharapkan seseorang memilih profesinya yang sesuai dengan tipe kepribadiannya.

Kesimpulan.

1.   Catur Warna tidak sama dengan Empat Kasta
2.   Kasta bersifat tertutup berdasarkan atas keturunan sedangkan Catur Warna bersifat dinamis berdasarkan interaksi triguna karma ( tiga sifat bawaan dan  pola perilaku secara terus menerus )
3.   Catur Warna adalah Empat Tipologi Kepribadian Manusia, menurut ilmu Psikologi Hindu, yaitu Tipe Brahmana, Tipe Ksatrya, Tipe Wesya, Tipe Sudra.
4.   Masing-masing dari catur Warna tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dibanding yang lainnya, Martabatnya ditentukan oleh perilakunya (karmanya).
5.   Kitab Suci Bagawad Gita bisa dipakai referensi untuk study Psikologi, maupun untuk mengetahui tipe kepribadian seseorang.
6.   Dengan mengetahui tipe kepribadian. Seseorang dapat memilih profesi/pekerjaan yang sesuai dengan tipe kepribadiannya.


Bahan Bacaan :
  1. Pudja G :Bagawad gita : lembaga peneliti dan pengembangan Weda, Maya Sari Jkt 1985/1986
  2. Kanalayan M. Talreja,Veda & Injil,  Ngakan Made Madrasuta (Editor). Media Hindu Jkt, 2005
  3. R.B. Cattel :Personality and Mood by Questionare;  dlm Organisasi jilid 1; Gibson dkk,Erlangga, Jkt..1989
  4. ING. Mudiarcana : Kepribadian Hindu dan Pembangunan Masa Depan.Putu Setia (ed) dlm:Cendekiawan Hindu Bicara halaman 70-87, Yayasan Dharma Narada. Denpasar, 1992 


Dr.ING.Mudiarcana,seorang Dokter,Alumnus FK-UGM angkatan 1982 
Mantan Seretaris Jenderal DPP Pemuda Hindu Indonesia  2000-2005


BACA JUGA INI :


ILMU SOSIAL



ILMU PSIKOLOGI



TENTANG HINDU










BABAD

http://sanakpitu.blogspot.com/2014/07/mahagotra-pasek-sanak-sapta-rsi-mpu.html




Tidak ada komentar: